Aliansi Bara-baraya Bersatu, Kawal Proses Sidang Gugatan Perdata

Aliansi Bara-baraya Bersatu, Kawal Proses Sidang Gugatan Perdata

0

Wali-news.com, Makassar – Aliansi Bara-baraya Bersatu menggelar aksi sebagai bentuk mengawal sidang putusan sela di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Selasa, (19/11).

Pernyataan sikap yang di ajukan  Aliansi Bara-baraya Bersatu yakni Pada tahun 2017 seorang bernama Nurdin Dg. Nombong  yang mengaku ahli waris dari Moeding Dg. Matika menggugat 28 warga Bara-Baraya ke Pengadilan Negeri (PN) Makassar dengan nomor perkara : 255/Pdt.G/2017/PN Mks. Nurdin Dg. Nombong & Kodam XIV Hasanuddin mengklain tanah yang menjadi tempat tinggal warga sebagai tanah bekas okupasi asrama TNI-AD.

Sementara warga telah menenpati objek tanah mereka sejak tahun 1960an dengan bukti alas hak kepemilikan.

Melalui perjuangan Warga bersama Aliansi, gugatan Nurdin DG. Nombong pada PN Makassar dinyatakan tidak diterima. Kemudian diperkuat dengan putusan Tingkat Banding dengan Nomor : 501/PDT/2018/PT.Mks.

Putusan tingkat banding tersebut tidak menghentikan “sikap arogansi” Nurdin Dg. Nombong. Pada tanggal 10 Juli 2019 Nurdin Dg. Nombong melalui kuasa hukumnya kembali mengajukan gugatan untuk kedua kalinya ke PN Makassar. Berdasarkan nomor perkara : 239/Pdt.G/2019/PN Mks Nurdin Dg. Nombong menggugat 40 warga Bara-Baraya.

Dalam beberapa kali persidangan gugatan kedua ini, sama seperti pada gugatan pertama, Nurdin Dg. Nombong tidak pernah menampakkan batang hidungnya

Pada tahapan sidang mediasi, yang seharusnya dihadiri oleh para pihak prinsipal, berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi  Di Pengadilan, namun Nurdin Dg. Nombong selaku pihak prinsipal penggugat tidak pernah menghadiri persidangan walau telah dipanggil secara patut oleh pihak pengadilan.

Ketidakhadiran Nurdin Dg. Nombong pada sidang mediasi seharusnya menjadi petimbangan hakim sebagai betuk tidak adanya itikad baik dari Nurdin Dg. Nombong sebagai pihak prinsipal penggugat dan menghentikan perkara ini.

Namun hakim tetap memutuskan untuk melanjutkan persidangan perkara tersebut, hal ini menimbulkan petanyaan pada sikap hakim dalam menangani perkara dan menegakkan peraturan perundang-undangan.

Warga Bara-Baraya yang telah hidup dan menguasai objek tanah selama bertahun tahun tentu tidak akan menyerah mempertahan haknya.

“Proses ini sedang, berjalan siapapun yang datang di sini untuk mencari keadilan maka kita akan melayani sebaik-baiknya”, ungkap Sabali.

“Kita tegakkan proses peradilan ini sampai yang benar itulah yang menang. Tapi dalam proses perdata perlu ada pembuktian secara sah dan administrasi. Saya ingat bahwa proses ini agak panjang karena pada waktu proses awal terjadi gugatan dari pihak ahli waris yaitu ingin gugatan tidak dapat diterima bukan gugatan ditolak”, imbuhnya.

“Putusan sidang sela itu sendiri, pihak hakim telah berpendapat dan memutuskan antara lain menolak desepsi putusan sela”, tutur pendamping hukum Bara-baraya. (ALO)

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Koalisi Mahasiswa Dan Pemuda Turatea Melakukan Unjuk Rasa, Pihak Kejari Jeneponto Menemui Massa

Wali – News, Jeneponto – Kejari Jeneponto Ramadiyagus, menemui