Antara Ular Dan Ulat

Antara Ular Dan Ulat

0

Oleh : H. Roni Haldi, Lc
Penghulu Muda KUA Kec. Susoh, Abdya dan Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh.

Ramadhan itu bulan taghyir. Bulan perubahan. Ramadhan membawa yang berpuasa merubah arah hidup menuju arah baru yang tentunya lebih baik dari sebelumnya. Arah baru itu adalah taqwa. Tujuan itulah yang dihasilkan puasa Ramadhan. Sejalan dengan firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 183:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Rupanya, bukan hanya manusia saja yang berpuasa. Hewan juga berpuasa. Ulat berpuasa dari kepompong lalu berubah menjadi kupu-kupu. Dan ular pun berpuasa untuk menggati merubah kulitnya. Keduanya hewan itu berpuasa karena sadar dan paham, bahwa taghyir atau perubahan itu diinginkan diri. Perubahan adalah sunnatullah Rabbani harus dijalani tak perlu dihindari apalagi ditentang disesali. Namun arah perubahan yang perlu dijaga lagi dipastikan agar tak salah arah sehingga merusak diri dan lingkungan sekitar. Arah perubahan yang dibawa Ramadhan tentu arah kebaikan penuh keberkahan.

Apakah ada persamaan ular dan ulat? Keduanya jalannya sama-sama merayap. Bukan cuma itu, ternyata ulat dan ular juga sama dalam fase hidupnya menjalani puasa untuk menyongsong arah perubahan. Namun, walau keduanya sama-sama berpuasa, tapi arah baru perubahan yang dihasilkan berbeda akhirnya. Puasa ular hanya menghasilkan pergantian kulit. Ular tetap jadi ular dengan karakter yang sama dengan sebelumnya. Tetap berbisa dan berbahaya bagi lingkungannya. Berbeda dengan ulat. Setelah puasa dalam kepompong, ulat berubah wujud menjadi kupu kupu yang cantik. Tidak hanya secara fisik berubah juga karakternya. Jika saat masih berwujud ulat, ia adalah musuh tumbuh-tumbuhan karena memakan daun dengan sangat rakus. Namun setelah berubah arah menjadi kupu-kupu, ia menjadi sahabat tumbuh-tumbuhan karena membantu penyerbukan.

Sebelum berpuasa namanya ular setelah berpuasa namanya tetap ular. Sebelum berpuasa makanannya daging setelah berpuasa tetap daging. Sebelum berpuasa bentuknya mengerikan setelah berpuasa tetap saja menyeramkan lagi menakutkan. Sebelum berpuasa sifatnya ganas setelah berpuasa tetap juga sifatnya bahkan lebih ganas dari sebelumnya. Sebelum berpuasa berjalan dengan perut setelah berpuasa masih saja berjalan dengan perutnya. Sebelum berpuasa mengganggu lingkungannya setelah puasa masih juga mengganggu siapa saja.

Namun berbeda jauh dengan ulat. Sebelum berpuasa namanya ulat setelah berpuasa namanya berubah menjadi kupu-kupu. Sebelum berpuasa makanannya daun setelah berpuasa makanannya nektar bunga. Sebelum berpuasa bentuknya menjijikkan setelah berpuasa bentuknya berubah menjadi indah menawan. Sebelum berpuasa sifatnya rakus setelah berpuasa makannya pilih-pilih lebih terjaga. Sebelum berpuasa berjalan dengan perut setelah berpuasa berubah bisa terbang meninggi dari bumi. Sebelum berpuasa jadi musuh petani diintai dikejar dibenci, setelah berpuasa berbah menjadi pembantu petani dalam penyerbukan tanaman.

Sungguh dua perubahan arah yang jauh berbeda. Keduanya sama-sama berpuasa, tapi hasil yang dicapai justru berbeda.
Berkaca lalu memetik ibrah dari hewan sekalipun tak ada suatu kesalahan padanya. Berpuasa harusnya meniru puasanya ulat yang berubah drastis dari berbagai segi dari yang buruk menjadi baik, tidak seperti ular yang berubah hanya kulitnya saja yang jadi lebih cerah. Jikalau ada orang yang berpuasa dan hanya berubah bajunya saja ketika lebaran tapi tidak berubah sifat kelakuannya itu sama saja dengan puasa ular.

Puasa Ramadhan yang kita jalani ini bisa saja seperti ulat atau ular. Jika puasanya hanya sekadar ritual rutin belaka, saat lebaran hanya berubah rupa dan diri memakai baju baru tanpa ada perubahan perilaku baru yang lebih baik maka itu tipe puasa ular. Hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, sebatas menggugurkan kewajiban semata. Dalam Sunan Ibnu Majah jilid 1 Rasulullah bersabda :

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Mengapa hanya lapar dan dahaga yang didapat? Puasa ternyata bukan hanya menahan lapar dan dahaga tapi juga harus menahan lisan dari berkata-kata yanga tidak baik, berkata kotor, menggunjing, menggibah, membenci dan mengadu domba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْجَهْلَ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَا حَاجَةَ لِلَّهِ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

”Apabila seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah ia berkata kotor, berteriak-teriak (bertengkar), dan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mencela atau mengajaknya bertengkar maka katakanlah : ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa (dua kali)’ ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika itu mampu dilakukan, puasa akan menghasilkan perubahan pemahaman dan sikap baru pada orang yang menunaikannya. Setelah puasa usai, diharapkan miliki pemahaman dan karakter baik yang sudah menjadi kebiasaan baru. Berpindah dari arah lama menuju arah baru berujung perubahan. Maka itulah puasa tipe ulat karena berubah menjadi lebih baik.

Kebiasaan baik yang menjadi karakter didasarkan pada kesadaran yang dibangun ditopang oleh iman dan ilmu. Dengan keduanya berjalan menuju nilai akhir berupa taqwa. Takwa itu bukan hanya hubungan vertikal kepada Allah tapi juga dimensi horizontal dengan sesama manusia.

Pada bulan Ramadhan, puasa diperintahkan. Perintah puasa itu hanya berlaku bagi orang yang beriman agar berubah arah menjadi orang yang bertakwa. Perubahan inilah yang perlu kita cermati, perubahan yang menuju hal yang lebih baik atau mungkin jauh lebih baik dari sebelumnya seperti puasanya ulat yang berubah menjadi kupu-kupu yang indah.

Semoga ibadah puasa yang kita lakukan terhindar dari tipe puasa ular yang hanya mendapatkan baju baru tanpa ada cara pandang dan karakter baru. Mari berusaha meraih puasa tipe ulat yang menghasilkan perubahan arah baru yang lebih baik, bermanfaat dan memberi rahmat bagi seluruh alam. Amin.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Polda Aceh Cekup Empat Pelaku Penyeludupan Etnis Rohingya

Wali-news, Banda Aceh- Jajaran Kepolisian Daerah Aceh melalui