Dari Ice Cream Hingga Madu Kelulut

Dari Ice Cream Hingga Madu Kelulut

0

Memanen Madu di Mulieng Mayang Aceh Utara

PRIA itu bertubuh kurus. Ia menjemput kami di simpang Cunda, Kota Lhokseumawe.

Dari Simpang Cunda, rombongan yang terdiri dari dua mobil ini menuju ke Desa Mulieng Mayang, Kecamatan Kutamakmur Kabupaten Aceh Utara.

Mobil di depan disopiri oleh Teungku Dedi, alumni timur tengah. Ia sebagai pembuka jalan untuk menuju Mulieng Mayang.

Pria berbadan kurus tadi keluar dari dalam mobil dan menuju ke mobil kami.

“Ta sembahyang dilee teungku,” ujar dia. Kebetulan saat itu waktu dzuhur tiba.

“Hana soe azan meunyoe ta ek laju,” ujarnya lagi.

Rombongan kompak mengangguk. Kami pun solat dhuzur berjamaah dan jamak untuk ashar.

Pria tadi adalah Aiyub, 48 tahun, warga Desa Mulieng Mayang, Kecamatan Kutamakmur, Kabupaten Aceh Utara.

Di desa inilah Aiyub membudidaya madu kelulut selama setahun terakhir.

Selain madu kelulut atau linot, ia juga membudidaya madu jenis Sarena.

Ke sini juga Syech Fadhil, senator DPD RI asal Aceh dan rombongan berkunjung pada Kamis siang 25 Juni 2020.

“Alhamdulillah kini ada 80 rumah untuk tempat madu linot. Kemudian beberapa untuk lebah Sarena,” kata Aiyub.

Aiyub bukanlah peternak madu linot dan lebah Sarena jembolan universitas ternama.

Tiga tahun lalu, Aiyub hanyalah pedagang es krim produksi Sumatera Utara merek Upin Ipin.

“Saya sudah baca baca soal madu linot. Kemudian ada yang bantu dan jadi seperti sekarang,” kata Aiyub.

“Alhamdulillah hasilnya lumayan sekarang,” katanya lagi.

“Saya beralih profesi ke peternak madu karena ingin hidup lebih berkah.”

Aiyub sangat berterimakasih atas kunjungan Syech Fadhil dan rombongan ke tempatnya.

“Ini menambah motivasi saya untuk menjadi peternak madu,” katanya lagi.

Sementara Syech Fadhil mengaku salut dengan tekad pak Aiyub dalam menjadi peternak madu.

“Kehidupan pak Aiyub yang peduli pada agama kemudian menjadi peternak madu sudah luar biasa. Saya berdoa supaya berkah dan usahanya terus berkembang,” kata Syech Fadhil.

Yang lebih membahagiakan Syech Fadhil lagi, menurut cerita Teungku Dedi, ternyata Pak Aiyub memiliki seorang putri yang hafizah atau penghafal Alquran 30 juzz.

Anak pak Aiyub ini bernama Safira,18 tahun. Ia baru lulus dari salah satu dayah di Aceh Utara.

Teungku Dedi menyarankan Safira ke timur tengah, tapi Pak Aiyub masih ragu soal biaya.

Syech Fadhil memotivasi Pak Aiyub untuk memantapkan hati untuk menyekolahkan anaknya ke timur tengah. Ia mengaku akan membantu untuk persoalan beasiswa.

“Saya sudah terlebih dahulu sudah berjanji dengan salah seorang ustadz untuk menyekolahkan Safira ke Jawa,” kata Aiyub kemudian.

Di lokasi, Aiyub juga memanen madu kelulut dan menyajikan untuk rombongan yang hadir ke sana.

Sekitar pukul 14.34 WIB, Syech Fadhil dan rombongan minta izin pamit untuk melanjutkan perjalanan.( Zam )

Editor : Redaksi

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Bertambah Lima Terkomfirmasi Covid-19, Sembuh 54 Orang di Aceh Barat

wali-news.com, Aceh Barat — Gugus Tugas Percepatan Penanganan