Diduga Serobot Lahan, PT Fajar Baizuri & Brothers Gugat Mantan Bupati Aceh Barat

Diduga Serobot Lahan, PT Fajar Baizuri & Brothers Gugat Mantan Bupati Aceh Barat

0

wali-news.com, Nagan Raya – Perusahaan perkebunan sawit PT Fajar Baizuri & Brothers yang beroperasi di kabupaten Nagan Raya, menggugat mantan Bupati Aceh Barat H. DR (HC) Teuku Alaidinsyah (Haji Tito) dengan tuntutan ganti rugi materil sebesar Rp. 11,9 Miliar, terkait perkara sengketa tanah.
Haji Tito digugat oleh perusahaan milik Ibrahim Pidie tersebut di Pengadilan Suka Makmue, Kabupaten Nagan raya atas dugaan penyerobotan atau penguasaan lahan milik perusahaan itu.

Gugatan yang dilayangkan ke Pengadilan Negeri (PN) Nagan Raya dengan nomor perkara 5/Pdt.G/2019/PN Skm rupanya sudah menjalani empat kali sidang, pada Hari ini Senin (29/07/2019) sidang tersebut sudah memasuki tahan jawaban terkait tuntutan perusahaan.

Adapun poin poin gugatan dalam perkara itu menggugat H Teuku Alaidinsyah alias Haji Tito sebagai tergugat dan PT Fajar Baizuri and Brother sebagai penggungat kepada Majelis Hakim yakni, Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya.

Menyatakan Sertipikat HGU Nomor 06 Tahun 1991 yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Barat tanggal 20 Nopember 1991 sebagaimana telah diganti dengan Sertipikat Pengganti Ke-I Nomor 06 Tahun 2007 yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Nagan Raya tanggal 16 Mei 2007 atas nama Penggugat, sah dan berharga menurut hukum.

Kemudian, Menyatakan tanah objek sengketa adalah bagian dari areal tanah HGU atas nama Penggugat berdasarkan Sertipikat HGU Nomor 06 Tahun 1991 yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Barat tanggal 20 Nopember 1991 sebagaimana telah diganti dengan Sertipikat Pengganti Ke-I Nomor 06 Tahun 2007 yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Nagan Raya tanggal 16 Mei 2007.

Menyatakan Tergugat telah menguasai secara tidak sah dan tanpa hak serta memakai tanah objek sengketa tanpa izin dari Penggugat .Menyatakan Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) yang merugikan Penggugat.

Hadir pada sidang jawaban sore tadi yakni, Ketua Majelis hakim, Arizal Anwar, Edo Juliasnyah dan Rosnainah sebagai anggota majelis hakim. Kuasa hukum Haji Tito Said Atah, T Fitrah Yuriswan dan Ahmadi Mahmud, serta pengacara penggugat dari perusahaan Zulfikar Sawang.

Kuasa hukum Haji Tito Said Atah didampingi dua pengacara lainnya, T Fitrah Yuriswan dan Ahmadi Mahmud dari kantor Sata Lawyers mengatakan. Gugatan tersebut jika dinilai secara hukum sangat tidak tepat sasaran jika yang digugat adalah Haji Tito.

“Dalam hal ini yang digugat H. Tito secara pribadi, dimana dalam gugatan itu disebutkan H. Tito telah melakukan pelanggaran hukum karena mengambil atau memanfaatkan lahannya milik PT fajar, namun dari sisi kami selalu kuasa hukum dari h. Tito menilai dan melihat secara hukum gugatan tersebut salah alamat. Dimana yang harus digugat itu pemilik lahannya. H. Tito sama sekali tidak memiliki lahan dalam HGU maupun diluar HGU PT fajar,” jelas Said usai sidang kepada wartawan, Senin (29/7/2019).

Dikatakannya, selama ini pemilik PT Wirataco tersebut diketahui tidak pernah memiliki investasi di bidang perkebunan apalagi kelapa sawit. Haji Tito dan perusahaanya begerak di bidang kontruksi atau kontraktor. Sebenarnya, lahan yang disengketakan oleh PT Fajar merupakan lahan milik masyarakat, dimana pada awalnya Haji Tito hanya sebagai pembantu saja bagi warga yang ingin menggarap lahan.

Bantuan yang diberikan Haji Tito tidaklah secara personal kepada masyarakat melainkan kepada kelompok yang jumlahnya bervariasi, agar bisa mereka memanfaatkan lahan tersebut untuk berkebun.

“H. Tito secara pribadi maupun perusahaan nya tidak pernah memiliki usaha perkebunan baik disegi usaha perkebunan. Beliau yang ada hanya usaha kontruksi ataupun kontraktor, dia hanya membantu masyarakat, kalau mau digugat ya masyarakatnya sebagai pemilik, disana tidak ada lahan atas nama beliau,” sebut Said.

Kronologi perkara tersebut yakni, Haji Tito diduga telah melakukan penyerobotan lahan milik Hak Guna Usaha (HGU) PT Fajar Baizuri and Brother seluas 242,31 Hecktare. Tanah tersebut telah digarap oleh pihak Haji Tito dan ditanami sawit. Namun, hal itu dibantah oleh kuasa hukumnya yang menyatakan bahwa gugatan yang dilayangkan perusahaan sawit itu salah alamat. (Red)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Jpu Tak Hadir Lagi. Sidang Kasus Mas Kurang Kadar Kembali Ditunda

Wali-news.com, Banda Aceh – Kuasa hukum Sunardi, Razman