Perusahaan Tak Komitmen, Tim Pansus DPRK Dampingi Warga Peunaga Cut ke Mifa Bersaudara

Perusahaan Tak Komitmen, Tim Pansus DPRK Dampingi Warga Peunaga Cut ke Mifa Bersaudara

0

wali-news.com, Meulaboh – Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh (DPRK) bersama Masyarakat mendatangi Mifa bersaudara. Jumat (28/12/18).

Dalam pertemuan dengan manajemen PT Mifa tersebut, Ramli hadir bersama sejumlah anggota DPRK diantarannya Said Madani, Tata Irfan (Komisi A), Nasri dan Bustan Ali (Komisi B). Mereka ikut mempertanyakan komitmen Mifa menyelesaikan persoalan debu batu bara yang masuk kepemukiman warga. PT Mifa juga didesak segera membebaskan lahan atau ganti rugi terhadap warga korban terpapar debu batubara.

Ramli juga mempertanyakan komitmen Mifa terkait pembebasan lahan dan rumah warga yang berjumlah 25 KK, sampai saat ini belum diselesaikan.

“Sebelumnya Mifa berjanji akan menyelesaikan terkait pembebasan lahan dan rumah warga yang tinggal di dusun pertanian pada tahun ini, tapi kok belum juga di selesaikan, tahun 2018 sisa tiga hari lagi ini, mana komitmen Mifa”. Tagi Ramli

Ramli menambahkan, hampir tiap hari masyarakat mendatangi saya memberikan laporan, makanya kami pertanyakan sejauh mana proses pembebasan lahan dan rumah warga tersebut. Itu laporan sudah menumpuk di meja saya, tegasnya.

Mewakili perusahaan Sopan Susila sebagai pengacara mifa menanggapi hal tersebut, ia menyampaikan pihak perusahaan sangat komitmen untuk menyelesaikan persoalan pembebasan lahan dan rumah warga. Dari 25 KK sebagian sudah diselesaikan.

“Tidak sampai satu tahun, kita sudah melakukan pembebasan dan melunasi sebanyak 12 kk di dusun pertanian desa Peunaga Cut”. Katanya

Sopan berdalih, untuk pembebasan lahan warga itu butuh proses penyelesaian administrasi, dan juga sebagian warga tidak mau dibayar tanahnya dengan harga Rp. 500 ribu, namun pihaknya berjanji sisa dari 25 KK lahan dan rumah warga, akan kita selesaikan pembebasan secepatnya. Ujarnya

Namun pernyataan dari pengacara mifa tersebut mendapatkan sanggahan dari warga.

Baharuddin BB yang mewakili masyarakat Peunaga Cut menegaskan, apa yang disampaikan pihak mifa itu tidak benar. Dari awal kami sudah setuju dibayar dengan harga Rp. 500 ribu permeter, tapi harus dibayar semuannya rumah dan lahan.

“Mifa jangan salahkan warga, kami tidak ngangu kalian duluan kami tinggal disini dari pada mifa, tapi kami yang makan debu mifa tiap hari. Kalau mau masalah ini selesai, harus dibayar semua rumah dan lahan kami, jangan setengah-setengah cuma mau membayar rumah, tapi lahan tidak”. Tegasnya

Kalau lahan produktif tidak dibebaskan, sama saja nanti warga juga makan debu batu bara ketika bertani.

Mifa tidak adil, warga yang tidak bersuara lahan dan rumahnya sudah di bebaskan serta di pekerjakan di perusahaan, sedangkan kami yang sering teriak masalah debu, lahan dan rumah belum dibayar apalagi untuk dipekerjakan memang tidak diterima oleh mifa. Tambahnya

Kalau mifa tidak mau menyelesaikan terkait persoalan ini, tolong jaga jangan sampai debu batu bara mifa masuk kerumah warga, jangan sampai sebaliknya. Kalian meraup untung sedangkan kami makan debu. tutupnya (Red)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Nekat Melintasi Perbatasan Untuk Mudik, 22 Orang Diswab Antigen, 1 Reaktif

Wali-news.com, Aceh Tamiang – Petugas gabungan yang terdiri