Elemen Sipil Aceh Barat Desak Majelis Hakim Memutuskan Pengusutan Lanjutan, Terkait Kasus Kematian Anak Di RSU CND

Elemen Sipil Aceh Barat Desak Majelis Hakim Memutuskan Pengusutan Lanjutan, Terkait Kasus Kematian Anak Di RSU CND

0

wali-news.com, Meulaboh – Elemen Sipil Masyarakat Aceh Barat mendesak pihak penegak hukum harus berlaku adil dan terbuka dalam mengungkapkan kasus suntik mati yang di alami dua anak di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien (RSU CND), pada Sabtu (20/10/18) lalu.

Sebelumnya kepolisian Aceh Barat sudah menetapkan dua orang tersangka yakni EW (29) dan DA (24), atas kasus suntik mati dua orang anak yang korbannya adalah Alfa Reza (11) asal Desa Pante Ceureumen, Aceh Barat. Dan Azrul Amilin (15) asal Pasie Teube, Teunom, Aceh Jaya. Keduanya meninggal dunia saat ditangani oleh petugas medis pada shift dalam waktu yang bersamaan.

Seperti dikutip pada Serambinews.com, Rabu (17/7). Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Barat telah melimpahkan berkas kasus yang menjerat dua tenaga medis berstatus honorer di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien (RSUD CND) Meulaboh ke Pengadilan Negeri (PN) setempat. Dengan pelimpahan berkas kasus suntik oleh kedua tenaga medis honorer itu yang kematian pasien bernama Alfa Reza (11), kini jaksa tinggal menunggu penetapan jadwal sidang oleh PN Meulaboh.

Pelimpahan berkas kasus suntik itu oleh Kejari Aceh Barat ke PN Meulaboh tersebut untuk segera bisa disidangkan. “Sudah dilimpahkan ke PN. Untuk jadwal sidang, kita menunggu penetapan dari PN,” kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Aceh Barat, Ahmad Sahrudin SH MH, melalui Kasi Pidana Umum (Pidum), Andri Herdiansyah SH MH kepada Serambi (17/7).

Saat konferensi pers yang dilakukan di Endatu Kopi, Selasa (23/7/19), siang. Sejumlah lemen Sipil yakni, Edy Syahputra Putra (GeRAK), Hamdani (YARA), Afrizal Abdul Rasyid (Pemerhati Pelayanan Publik) dan Safpruriyadi (tokoh pemuda), mempertanyakan kejelasan terkait kasus suntik yang mengalami dua anak meninggal dunia di RSU CND itu.

Edy Syah putra mengatakan kasus tersebut sudah memakan korban dua orang anak meninggal dunia saat ditangani oleh petugas medis yang juga sebagai tenaga medis honorer di RSU CND itu, perlu adanya proses hukum yang adil dan terbuka terkait kasus tersebut.

“Yang kita ketahui kasus tersebut sudah dilimpahkan ke PN Meulaboh oleh Kejaksaan yang kematian pasien bernama Alfa Reza, namun bagaimana dengan korban bernama Azrul Amilin yang juga waktu bersamaan meninggal dunia setelah mendapat pelayanan dari petugas medis. Ini perlu penjelasan sejauh mana proses penyidikan yang oleh pihak penyidik,” tegas Edy

Menurutnya, perlu ada keadilan dalam proses penetapan tersangka terkait kasus itu, pihak kepolisian harus berani mengungkapkan siapa saja yang terlibat dalam kasus yang merenggut nyawa dua orang anak itu.

Pihaknya menduga, pelimpahan berkas oleh Kejaksaan kepada PN Meulaboh tersebut telah mencederai aspek keadilan dan pembungkaman terhadap kebenaran. Ia meminta kepada majelis hakim untuk dapat memutuskan pengusutan lebih lanjut terhadap pihak manajemen RSU CND, sebagaimana pihak yang harus bertanggungjawab atas kasus suntik tersebut.

Selanjutnya Safpruriyadi menyebutkan, Jaksa Peneliti tidak cermat dalam meneliti berkas, seharusnya jaksa bisa memberi petunjuk kepada penyidik tentang peran dan tanggung jawab manajemen rumah sakit terkait kejadiaan ini sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 46 Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Menurut Safpruriyadi, Seharusnya secara manajemen Rumah Sakit (Dokter dan Penanggung jawab ruangan) harus bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 46 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Maka, tidak tepat jika kesalahan tersebut hanya dibebankan kepada 2 orang tenaga honorer.

“Kami sangat kecewa dengan penyidikan yang dilakukan oleh penyidik dan hanya menjerat tenaga honorer saja.” Ungkapnya.

Pihaknya meminta kepada Majelis Hakim yang mengadili perkara ini untuk dapat memutuskan pengusutan lebih lanjut terhadap pihak manajemen rumah sakit yang harus bertanggung jawab sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 46 Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Selain itu, Afrizal Abdul Rasyid selaras dengan Hamdani mengatakan, Pihak RSU CND harus mendisiplinkan para pegawai (PNS) dan petugas medis honorer. Sebagaimana di atur dalam PP No 53 tahun 2010 tentang disiplin pegawai negeri sipil, agar kasus yang sama tidak terulang kembali di RSU CND Meulaboh.

Menurutnya, pihak manajemen RSU CND harus lebih efektif dalam memberikan pelayanan kepada publik, karena setiap masyarakat memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Dan itu menjadi peran penting bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat.

Pihaknya menegaskan, seharusnya penyelenggaraan kesehatan harus dilakukan oleh petugas medis atau tenaga kesehatan yang bertanggungjawab, harus memiliki etik dan moral yang tinggi, keahlian serta kewenangan yang ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan, sertifikasi, registrasi, pembinaan dan pengawasan serta perikemanusiaan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.

Atas dasar tersebut pihaknya mendorong lahirnya tim independen yang terdiri unsur kepolisian, Kejaksaan, Pemerintah atau Dinkes, dan DPRK untuk melakukan pencarian fakta yang berimbang, adil dan mengungkapkan yang sesungguhnya terhadap kasus tersebut.

Pihaknya juga mendesak Bupati Aceh Barat untuk melakukan pemberhentian jabatan atau memberikan sanksi lainnya kepada pihak yang diduga telah ikut terlibat dalam kasus suntik dan meninggalnya dua orang anak yakni Alfa Reza dan Asrul Amilin di RSU CND Meulaboh. (OS)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Polisi Tangkap Pengguna Handphone Dari Hasil Kejahatan di Banda Aceh

Wali-news, Banda Aceh- Opsnal Jatanras Satuan Reserse Kriminal