Karena Kesal, Mahasiswa Menyegel Kampus Dan Mengusir Civitas Akademika STAIN Meulaboh

Karena Kesal, Mahasiswa Menyegel Kampus Dan Mengusir Civitas Akademika STAIN Meulaboh

0

wali-news.com, Meulaboh – Aksi Ratusan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teuku Dirundeng Meulaboh, berujung pada penyegelan kampus dan pengusiran terhadap civitas akademika. Dikawasan Gampa, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat hingga Selasa (26/3) siang masih berlanjut.

Mahasiswa terpaksa melakukan segel dengan las pintu gerbang kampus lantaran kesal dengan pihak kampus yang tidak bisa menghadirkan Ketua STAIN di hadapan para pendemo.

Bukan hanya itu, aksi mahasiswa sempat terjadi saling dorong dan adu mulut dengan pihak keamanan kampus, karena memaksa seluruh Dosen dan civitas akademika kampus itu di usir dari ruangan kerjanya, Sehingga proses belajarpun terhenti total.

Sejumlah petugas kepolisian dari Polres Aceh Barat juga turut disiagakan di lokasi, karena aksi mahasiswa semakin memanas.

Wakil Kepala Resor (Wakapolres) Aceh Barat, Komisaris Polisi Edi Bagus S, meminta para mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh untuk membubarkan aksinya dan membicarakan setiap persoalan lewat diskusi bersama pihak kampus.

Wakapolres juga meminta kepada mahasiswa untuk tidak melakukan tindakan menyegel kampus dan juga tindakan anarkis lainnya yang dapat merusak fasilitas negara.

Namun upaya tersebut tidak juga mengubah niat mahasiswa untuk melakukan penyegelan kampus.

Juru bicara aksi Eka Susanti mengatakan, Aksi ini adalah bagian bentuk kepedulian terhadap persoalan kampus, yang mana beberapa hari ini kampus STAIN Meulaboh ramai dibicarakan di media sosial terkait adanya dugaan kejanggalan dalam proses pemilihan Ketua kampus STAIN.

“Ia menduga dalam penetapan pemilihan ketua STAIN periode 2019-2023 itu cacat hukum dan adanya kejanggalan di karenakan dalam proses itu terjadinya praktek jual beli jabatan di jajaran Kementerian Agama Republik Indonesia,” Ujarnya.

Seperti yang di ungkapkan oleh Prof. Mahfud MD di acara diskusi di forum Indonesia Lawyer Club (ILC) pada Selasa, 19 Maret 2019 di TV ONE yang lalu.

Saat itu, Mahfud mengatakan dalam proses pemilihan ketua STAIN Meulaboh adanya kejanggalan dan diduga terjadinya praktek jual beli jabatan di lingkungan kementerian agama.

Menurut Eka, persoalan tersebut sudah mencemari nama baik kampus, maka pihaknya mendesak penegak hukum untuk segera menuntaskan kasus ini sampai ke akar-akarnya. Cetusnya

Ia menambahkan dalam proses pemilihan ketua STAIN tersebut ada dua calon yang diduga hanya sebagai formalitas yakni Dr. Innayatillah dan Dr. Azhar untuk mendampingi Dr. Syamsuar yang di anggap untuk memenuhi persyaratan.

“Namun yang terpilih sebagai ketua STAIN adalah calon yang formalitas, sedangkan Dr. Syamsuar calon yang satu-satunya memenuhi syarat tidak terpilih,” Terangnya.

Disisi lain Muktaruddin Pakeh selaku Ketua DEMA STAIN Meulaboh, mengatakan pihaknya mendesak pihak kampus dalam hal ini kepada panitia seleksi (Pansel) pemilihan ketua STAIN untuk menjelaskan terkait persoalan tersebut.

“Pansel harus segera mengungkapkan bagaimana proses pemilihan ketua STAIN yang sebenarnya, sehingga kita tau jelas siapa yang sebenarnya layak menjadi ketua kampus STAIN Meulaboh,” Ungkapnya.

Aksi mahasiswa hari ini merupakan protes keras terhadap persoalan tersebut, mahasiswa terpaksa melakukan penyegelan terhadap kampus, karena dinilai telah mengabaikan tuntutan mereka

“Demi menjaga marwah dan nama baik kampus, saya selaku ketua DEMA STAIN akan bertanggung jawab atas aksi ini,” Ucapnya.

Selain itu Ia juga meminta kepada KPK untuk mengusut tuntas dengan adanya praktek jual beli jabatan ketua STAIN dilingkungan kementerian agama.

Dalam aksinya, mahasiswa juga membentangkan spanduk, karton serta membakar ban bekas sambil menyanyikan yel-yel perjuangan mahasiswa. (Red).

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Sungai Krueng Aceh di penuhi sampah Plastik dan daun.

Wali news-Banda Aceh Sampah menghampar di sungai Krueng