Kesal Tak Transparan, Warga Puloe Teungoh Tutup Jalan Menuju Galian C

Kesal Tak Transparan, Warga Puloe Teungoh Tutup Jalan Menuju Galian C

0

wali-news.com, Meulaboh – warga Gampong Puloe Teungoh, Kecamatan meureubo, Aceh Barat. Terpaksa melakukan pemblokiran jalur keluar-masuk kendaraan pengangkut pasir menuju sungai. Warga kesal lantaran hasil dari pengelolaan usaha Galian C milik Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) tersebut tidak transparan kepada masyarakat.

Tak hanya itu, diduga pengambilan pasir di gampong tersebut dilakukan tanpa mengantongi izin dari pihak terkait.

Kepada wali-news.com, Rabu, (12/6/19). Muhammad Dahlan mengatakan, pemblokiran jalan tersebut karena warga kesal dengan pemerintah Gampong yang tidak terbuka dan transparan terkait hasil pengelolaan anggaran dari BUMG.

“Sudah berulangkali dipertanyakan, namun tidak pernah mendapat respon baik dari aparat desa,” kata Dahlan.

Dahlan berdalih, kekesalan warga semakin bertambah ketika Kepala BUMG setempat beragumen dalam rapat, bahwa keuangan BUMG tidak ada urusan dengan masyarakat, mau dibawa kemana saja itu terserah pengurus BUMG, kami dilindugi payung hukum.

Pemblokiran jalan sudah dilakukan sejak 1 Juni 2019 karena tidak tahan dengan perlakuan aparatur desa dan pengurus BUMG, ditambah lagi jalan yang digunakan untuk lalu lalang truk pengangkut pasir merupakan tanah mayasrakat.

Menurut Dahlan, galian C itu sudah ada sejak tahun 2007, namun segala prosesnya legal dan sah hingga tahun 2016, sejak tahun 2017 berubah drastis pengelolaannya, dimana perangkat desa sebelumnya bisa menunjukkan hasil dari usaha galian C. Namun sebaliknya, pemerintah gampong sekarang malah tertutup dan hanya menunjukkan angka di kertas saja tanpa bisa dijelaskan dengan rinci.

Ia menjelaskan, sejak tahun 2017 Galian C di desanya tidak pernah dikelola secara transparan terhadap hasil yang didapat, terlebih lagi untuk pengurusan izin penggambilan pasirnya sudah menghabiskan anggaran Rp 45 Juta. Namun, saat dimintai keterangan soal itu, pihak desa berdalih izin belum keluar masih dalam proses pengurusan.

“Kita suruh urus sama orang, begitu kata Keuchik, sudah Rp 45 juta dihabiskan tapi sampai sekarang belum bisa dibuktikan, kalau uang sebesar itu rasanya pasti ada kwitansi atau bukti pembayarannya, aneh jika pengelolaan uang tidak transparan,” jelasnya.

Tak hanya, Dikatakannya, Bahkan permobil pengangkut pasir dikutip Rp 5 ribu oleh Keuchik, katanya untuk biaya keamanan, tapi masyarakat tidak tahu siapa pengamanan itu, kalau memang legal kenapa harus takut, ini jelas menambah kecurigaan warga.

“Kalau memang itu legal kenapa ditutupi dan terkesan takut diketahui oleh masyarakat,” sebutnya.

M. Dahlan yang juga mantan Tuha Peut Gampong Pule Tengoh itu, merupakan orang yang sangat kritis terhadap persoalan ini, sehingga ada beberapa pihak yang mencoba melobinya untuk penyelesaian secara empat mata agar dibuka blokir. Namum ditolak agar masyarakat di sana solid dan tidak dapat diukur dengan hasil kecil yang sifatnya sementara.

Masyarakat hanya menuntut pengelolaan galian C di sana bisa transparan seperti sebelumnya. Bahkan setiap hari besar seperti menjelang meugang dan lebaran masyarakat selalu mendapatkan hibah dari hasil BUMG, khususnya bagi yang tidak mampu dan fakir miskin. Namun berbeda dengan sekarang yang hasilnya tidak tahu kemana dan untuk apa saja. (OS)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Sisir Gampong, BIN Daerah Aceh Kembali Vaksin Warga Aceh Besar

Wali-news.com, Aceh Besar – Badan Intelejen Negara (BIN)