Konami Sembilan Tahun Lampau

Konami Sembilan Tahun Lampau

0

wali-news.com, Opini – Di tanggal yang sama, sembilan tahun lampau sekelompok mahasiswa memainkan perannya dalam kancah politik nasional. Bukan dengan berpartai di parlemen, namun turun ke jalan melanjutkan tradisi lama: mobilisasi gerakan protes.

Sebagai catatan yang saya ingat, konsolidasi gerakan tersebut mulanya dibangun dari Jakarta yang lantas menyeret sejumlah daerah untuk bergabung, tak ketingggalan Yoyakarta— tempatku berdomisili bersama sejumlah aktifis Sekber. Sepanjang ingatan saya aksi itu dihadiri ratusan mahasiswa dari Sulawesi, Palu, Kalimantan, Sumatera dan Indonesia Timur.

Animo demonstrasi pada waktu itu dibangun dengan isu utama kegagalan Rezim SBY JK, utamanya terkait pelayanan publik dan pengelolaan subsidi rakyat yang dianggap tidak terkelola dengan baik. Pun menyoal pemangkasan subsidi BBM bagi rakyat.

Layaknya kata salah satu senior di Jogja, bahwa emosi massa itu cepat menular. Dan betul saja, aksi demi aksi digelar dan berujung kisruh dimana-mana. Syukur tak ada korban jiwa kala itu, hanya beberapa kawan yang terkena tembakan peluru karet, termasuk saya sendiri.

Sembilan tahun lalu, menjadi debut saya pribadi untuk menjadi bagian dalam gerakan berjuluk Konami, atau Konsolidasi Nasional Mahasiswa Indonesia. Beberapa tahun sebelumnya memang sudah ada gerakan serupa, (Taligeni kalau tidak salah).

Diinisiasi oleh sejumlah aktifis kawakan ibukota. Konsolidasi itu menggelinding seperti bola salju, yang lantas berhasil membuat lingkaran besar dan menghimpun sekitar ribuanmahasiswa dari berbagai daerah.

Oh iya, sehari sebelumnya, kami berangkat bersama puluhan mahasiswa daerah lain, dengan menggunakan dua bus. Sampai di Jakarta lantas ke markas YLBHI di Jalan Salemba Jakarta Pusat.

Demo berlangsung di beberapa tempat, dan memakan waktu berhari hari, mulai dari Istana Merdeka, DPR RI hingga jalan Salemba menjadi arena saling lempar, polisi dan mahasiswa. Satu mobil polisi hangus, dengan enam mahasiswa dibawa ke Mapolda.

Malam terakhir sebelum Konami diberitakan Game Over oleh media ibukota. Salemba mendadak rusuh, tak jelas lagi siapa Polisi siapa Mahasiswa. Belakangan laporan riset organisasi pro demokrasi menyebut aksi itu banyak ditunggangi intel, yang memang berstatus sebagai mahasiswa.

“Sembilan tahun sudah berlalu, orasi dan mobilisasi tetaplah aktual untuk dilakukan karena itu adalah bagian dari keharusan sejarah. Zaman berganti rupa, semoga generasi baru selalu punya dinamika,” kataku dalam hati sambil melihat tungkai kaki kananku bekas peluru karet nyasar. Duduk sambil melihat langit yang sama seperti sembilan tahun lalu, masih tetap mendung yang sama.

Dan kawan-kawan rupanya sudah banyak yang menuai keberhasilan dari Konami itu, meskipun keberhasilan yang sifatnya pribadi bukan kolektif. Ada yang sudah duduk di DPR RI, ada yang sudah jadi staf kementerian, juga banyak yang mendadak jadi komisaris di sejumlah BUMN. Semoga semuanya sehat dan tetap bersemangat.

Penulis : Rifat Arif, Bandar Lampung

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

300 Pelajar Barsel Ikuti Vaksinasi Covid dari BINDA Kalteng

Wali-news.com. Ratusan pelajar dari sejumlah sekolah di Kabupaten