Konflik Satwa Liar Masih Tinggi di Aceh

Konflik Satwa Liar Masih Tinggi di Aceh

0

Wali-news, Banda Aceh – Penghujung akhir tahun 2020, konflik satwa liar di Aceh masih cukup tinggi. Ada 180 kasus konflik satwa yang tercatat dari tiga habitat satwa yang terancam punah.

Untuk konflik gajah, ada 102 kasus, harimau ada 35 kasus dan orangutan ada 40 kasus.

Data itu didapat saat Konferensi Pers Penanganan Tindak Pidana Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi di Provinsi Aceh 2020, yang diselenggarakan oleh Forum Jurnalis Lingkungan (FJL ) Aceh yang didukung oleh Tropical Forest Conservstion Action (TFCA) Sumatera dan Lembaga Suar Galang Keadilan di Aula BKSDA Aceh, Senin (21/12/2020).

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Agus Arianto mengatakan untuk konflik gajah sendiri, disebabkan gajah sudah tidak berada di kawasan hutan konservasi. Kebanyakan kawanan gajah itu mencari makan di luar kawasan.

“Sekitar 85 persen gajah ini sudah tidak berada di kawasan konservasi lagi,” kata Agus.

Lanjut Agus, sepanjangan 2020 juga, kematian gajah liar sebanyak 10 kali dengan rincian, Aceh Jaya enam ekor gajah mati yang lima diantaranya sudah menjadi tulang belulang, Aceh Timur dua ekor yang berjenis kelamin betina dan Pidie dengan dua kali kematian gajah.

Penyebab kematian itu juga sejak 2016 hingga Desember 2020 57 persennya diakibatkan oleh konflik antara gajah dan manusia. “10 persen itu perburuan dan 33 persen karena mati alami,” sebutnya.

Ia mengatakan, angka konflik satwa sangat tinggi di lapangan. Data tahun 2020 tidak jauh dengan data tahun 2019.

Berdasarkan bulan, potensi konflik gajah tertinggi itu ada di musim penghujan.

Untuk Harimau konflik dengan manusia terjadi sangat tinggi di Aceh selatan, subulussalam dan tamiang.

“Konflik orang hutan dari 2017-2020 masuk keperkebunan masyarakat dan penyerahan juga ada ke BKSD. Kasus pengaduan masuk ke call center kami,” ungkapnya.

Sementara Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh, AKBP Hairajadi, jika dilihat dari data, angka konflik satwa ini tiap tahunnya mengalami peningkatan.

Dari 2009 saya sering mengungkapkan kasus jual beli satwa yang di awetkan dan itu mudah didapatkan dulunya. Sekarang sudah banyak yang peduli maka sudah jarang kita liat koleksi-koleksi satwa di rumah-rumah pejabat khususnya,” katanya.

Terkait penindakan, ia mengatakan pihak kepolisian juga terbentur dengan anggaran pastinya. Saat ini Gubernur juga sudah membentuk tim terpadu untuk perlindungan satwa ini. Dan Kapolda Aceh juga sudah menegaskan untuk menindak tegas pelaku kejahatan terhadap satwa dilindungi.

“Semoga ini bisa menjadi efekjera bagi para pelaku agar kedepannya tidak lagi bermain-main dengan masalah perlindungan satwa dan perusakan alam,” pungkasnya.(HP)

Editor : Muzakkir

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Bea Cukai Aceh Gagalkan Penyeludupan 6 Milyar Rokok Ilegal di Perairan Aceh

Wali-news.com, Lhokseumawe – Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh