Madrasah Ala “Laskar Pelangi” Di Fajar Harapan, Butuh Perhatian Pemerintah

Madrasah Ala “Laskar Pelangi” Di Fajar Harapan, Butuh Perhatian Pemerintah

0

wali-news.com,Tapaktuan– Mendapatkan fasilitas sarana pendidikan yang memadai merupakan impian setiap siswa di tingkat pendidikan apapun juga, agar kenyamanan dan kebutuhan pendidikannya dapat dicapai dengan baik dan berkualitas.

Namun, di tengah gencarnya kampanye tentang peningkatan mutu dan fasilitas pendidikan, masih saja kita dapatkan sekolah-sekolah yang tidak layak huni yang memprihatinkan.

Hal itu juga yang kini sedang dialami oleh siswa Madrasah Ibtidaiyah Swasta desa Fajar Harapan, kecamatan Kluet Utara kabupaten Aceh Selatan.

Madrasah yang masih berstatus swasta ini memang memiliki jumlah siswa sedikit, sekitar 54 siswa sekolah di bangunan yang didirikan sejak 22 Juni 2007 lalu ini.

Bangunan berdinding papan beroleskan cat dasar warna putih ini berdiri di tengah tanah lapang diantara perdunya pepohonan sawit. Ketika media ini bertandang ke madrasah yang hanya memiliki 3 guru berstatus PNS dan 9 non PNS ini, terlihat ada sebagian siswa sedang asyik bermain dengan teman sebayanya mengisi jam istirahat belajar.

Namun kami berhasil mengabadikan salah satu kelas yang saat itu sedang melakukan proses belajar mengajar. Sepintas kami dapat menangkap betapa semangatnya mereka mengenyam ilmu pendidikan walaupun harus belajar di ruangan yang mulai lapuk dimakan rayap.

Wakil kepala MIS desa Fajar Harapan, Muslimat saat di jumpai di ruangannya mengatakan tekat belajar siswanya sangat kuat, walau terkadang mereka harus berbagi ruangan untuk belajar dengan kelas lainnya.

“Saat ini kita memiliki dua kelas, setiap kelasnya kita harus berbagi dengan kelas lainnya agar semua dapat belajar di jam yang sama,” ujarnya Rabu (1/11/2017).

Dia berharap agar pihak terkait dapat memperhatikan keterbatasan yang mereka alami saat ini, sehingga dapat memberikan kenyamanan kepada siswa yang berasal dari desa Fajar Harapan tersebut.

“Perhatian pemerintah sangat kami harapkan, mengingat keadaan bangunan sudah semakin lapuk dimakan usia,” harapnya.

Selain itu menurutnya untuk guru honorer atau bakti yang memiliki UNPTK, mereka hanya mampu memberikan imbalan dengan kisaran sekitar Rp.250 ribu per guru yang diamprah setiap tiga atau enam bulan sekali.

“Untuk untuk tenaga bakti tanpa UNPTK kami berikan berdasarkan kebijakan kepala sekolah,” tambahnya.

Sementara itu, Herman salah seorang warga Fajar Harapan mengatakan desa mereka juga memiliki sekolah dasar (SD) yang jauhnya mencapai 1 kilomoter.

“Sebelum kecamatan Kluet Utara di mekarkan kami juga punya SD dengan nama SD Fajar Harapan, tapi kini SD tersebut masuk ke kecamatan Pasie Raja dengan nama SD Fajar Harapan Desa Ujung Padang dan miliki jarak yang relatif jauh,” ujarnya.

Menurutnya penyebab berubah SD tersebut menjadi SD di kecamatan Pasie Raja dikarenakan perbatasan antar desa dan juga permasalahan batas kecamatan Kluet Utara dan Pasie Raja.

“Selain jauh, sampai saat ini belum adana kejelasan batas desa ataupun batas kecamatan,” pungkasnya.

Miris memang, bagaimanapun juga hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak merupakan hak dasar setiap manusia, dilihat dari daya tempuh yang mencapai 1 kilomoter, tentu bukan hal mudah bagi anak-anak​ petani di desa Fajar Harapan untuk mencapai SD di desa tetangga.

Hingga 11 tahun sudah berlalu, Madrasah yang sepintas terlihat seperti sekolah para “Laskar Pelangi” ini terus berjuang menciptakan kader bangsa dengan harapan meningkatkan mutu pendidikan dan mengentaskan kebodohan bagi generasi bangsa ini.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

HMI Cabang Bandar Lampung Tanggapi PP Pemerintah Tentang Penghapusan Pancasila Dalam Kurikulum Pendidikan Dasar

wali-news.com, Bandar Lampung Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang