“Mematuhi Himbauan Pemerintah Merupakan Bagian Dari Ikhtiar Menghadapi Wabah Corona”

“Mematuhi Himbauan Pemerintah Merupakan Bagian Dari Ikhtiar Menghadapi Wabah Corona”

0

Oleh: Tgk. Habibie M. Waly, S.TH (Sarjana Tafsir Hadis)

Setiap segala sesuatu yang terjadi pasti ada hikmah dan hakikat makna yang terkandung didalamnya.

Demikianlah juga yang terjadi terhadap musibah yang diletakkan Allah pada suatu tempat. Bisa diartikan sebagai ujian bagi mereka orang-orang yang beriman dan demikian juga bisa diartikan bencana atau azab bagi mereka yang berbuat kekafiran dan kefasikan.

Kesimpulannya adalah semua yang terjadi di dunia ini pasti memiliki hakikat kejadian untuk setiap makna-maknanya.

Begitulah yang terjadi terhadap penyakit kematian yang baru baru-baru ini terjadi untuk seluruh dunia, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan kasus penyakit ini ketingkat pandemi dan memiliki kekuatan penyebaran yang sangat berbahya.

inilah Corona atau disebut oleh para ilmuan kodokteran dengan nama Corona Virus,Didalam islam sendiri, Virus Corona dan semua penyakit yang memiliki sifat mewabah disebut dengan istilah “Waj’un” yang artinya “Menyebar”.

Untuk itu segala penyakit yang bersifat pandemi baik yang mematikan atau yang tidak disebut dengan istilah “Waj’un”, istilah ini dapat dilihat dalam sebuah hadits Rasulullah sebagai berikut :
إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ أَوْ السَّقَمَ رِجْزٌ عُذِّبَ بِهِ بَعْضُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ ثُمَّ بَقِيَ بَعْدُ بِالْأَرْضِ
“Wabah penyakit ini adalah sebuah adzab, yang dengannya Allah membinasakan sebagian ummat sebelum kalian dan sisanya masih ada dimuka bumi.” (H.R Muslim, no : 4112)

Ada dua buah hal yang menarik dari hadist diatas, sepertimana yang dikatakan Rasulullah bahwa jika hadir wabah penyakit dalam suatu daerah maka wabah tersebut adalah azab yang Allah turunkan.

Hal menarik yang kedua Nabi Muhammad mengatakan bahwa wabah penyakit yang terjadi dalam suatu daerah merupakan sisa dari bentuk azab yang pernah Allah turunkan.

Benarlah apa yang dikatakan Rasulullah para ahli sejarah mencatat bahwa wabah penyakit Dysesthesia (kulit sakit hingga terbakar jika disentuh) faktanya pernah melanda pada umat Nabi Musa, Virus HIV pernah melanda pada umat Nabi Luth, virus Emycetoma pada masa Nabi Ayyub dan beberapa virus yang mewabah pada masa Rasulullah, seperti wabah demam, types, dan Ta’un.

Lalu bagaimanakah sesungguhnya terapan keamanan dan kesehatan dalam islam itu sendiri terhadap virus yang mewabah ?
Rasulullah memberi solusi untuk menghadapi pandemi virus, beliau pernah bersabda :

إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ أَوْ السَّقَمَ رِجْزٌ عُذِّبَ بِهِ بَعْضُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ ثُمَّ بَقِيَ بَعْدُ بِالْأَرْضِ فَيَذْهَبُ الْمَرَّةَ وَيَأْتِي الْأُخْرَى فَمَنْ سَمِعَ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا يَقْدَمَنَّ عَلَيْهِ وَمَنْ وَقَعَ بِأَرْضٍ وَهُوَ بِهَا فَلَا يُخْرِجَنَّهُ الْفِرَارُ مِنْهُ
“Wabah penyakit ini adalah sebuah adzab, yang dengannya Allah membinasakan sebagian ummat sebelum kalian dan sisanya masih ada dimuka bumi, terkadang datang dan terkadang pergi. Bila terdengar ada di suatu tempat maka janganlah kalian mendatanginya. Dan bila terjadi di suatu tempat sedangkan dia ada di situ maka janganlah kalian menyuruhnya keluar dari tempat itu.” (H.R Muslim, no : 4112)

Rasulullah memberi tahu kepada seluruh umatnya bahwa virus dan wabah penyakit pasti akan sirna dengan syarat patuhi beberapa aturan lain yang harus diselesaikan, aturan yang dimaksudkan itu adalah sistem Karantina dan Mendiam diri.
Sepertimana dikatakan oleh Rasulullah.

bahwa mendiam diri untuk tidak masuk kedalam suatu lokasi yang telah terinfeksi virus dan mengkarantinakan wabah yang telah terjangkit pada sebuah media keduanya harus saling berkorelasi dan diterapkan secara bersama.

Hal ini dilakukan adalah untuk memutasikan pengembangan pandemi suatu virus hingga menghilangkan pewabahan terhadap penyakit tersebut.

Maka dari penjelasan diatas sudah sangatlah sesuai, tepat dan benar bahwa aturan pemerintah khususnya MUI yang juga menerapkan beberapa aturan adalah sangat sesuai dari apa yang telah dijelaskan Rasulullah dalam hadits beliau diatas.

tujuannya tentu untuk menghentikan Pandemi Covid cepat menghilang,Untuk itu aturan-aturan yang telah dibuat seperti sistem Lockdown, tidak berjabat tangan, shaf dijarangkan dalam shalat, shalat jumat ditiadakan, karantina diri bagi ODP atau PDP Coronadan beberapa ketentuan lainnya jugala termasuk unsur daripada maksud dalam matan hadits Rasulullah diatas.

Tentu selain sandaran dasar hukum aturan pemerintah dan MUI hari ini yang berpedoman pada pada hadits Rasululllah jugalah beberapa referensi para sahabat dan penjelasan dari alim ulama terkait wabah penyakit jugalah disertakan.

Sepertimana aturan tidak bolehnya mendirikan jumat contohnya, maka sah-sah saja karena mewabah suatu penyakit juga tergolong dalam unsur uzur dan setiap yang uzur bagi seorang hamba dalam ibadahnya maka akan diberi keringanan Allah pada dirinya sehingga boleh ditinggalkan.

Demikian halnya yang lain, tidak berjabat tangan, shalat dilakukan didalam rumah, tidak dalam keramaian, shaf dijarangkan semua itu termasuk dalam katagori uzur jua. Dalam sebuah kaedah dikatakan :
الوُجُوْبُ يَتَعَلَّقُ بِاْلاِسْتِطَاعَةِ , فَلاَ وَاجِبَ مَعَ الْعَجْزِ , وَلاَ مُحَرَّمَ مَعَ الضَّرُوْرَةِ
“Pelaksanaan Kewajiban Terkait (itu harus) Dengan Kemampuan, Kewajiban Melaksanakan Sesuatu Menjadi Gugur Jika Tidak Mampu Melaksanakannya, Suatu

Yang Dilarang (Diharamkan) Menjadi Boleh Saat Kondisi Darurat.” (Kitab Taudihul Ahkam Min Bulughul Maram, hal : 75)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah maka kerjakanlah sesuai kemampuan kalian.” (HR. Bukhari,Kitab Al I’tisham Bab Al Iqtidaa’ bi Sunani Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam No. 7.288 / HR. Muslim, Kitab Al Hajj Bab Fardhu Al Hajj No. 1.337)

Di antara ayat Al-Quran yang menunjukkan kaidah ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” [Q.S At-Thaghabuun : 16]

Selain contoh diatas, larangan seperti memisahkan saf dalam shalat jugalah dibolehkan karena beberapa ketentuan ijmak ulama yang telah tertera dalam hukum islam.

Syeikh Imam Ibnu Hajar Al-Haytami (salah seorang ulama fikih dan hadits terkenal) dalam kitabnya menyebutkan :
نَعَمْ إنْ كَانَ تَأَخُّرُهُمْ لِعُذْرٍ كَوَقْتِ الْحَرِّ بِالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَلَا كَرَاهَةَ وَلَا تَقْصِيرَ كَمَا هُوَ ظَاهِر
“Ya, sekiranya mereka tertinggal (terpisah) dari shaf karena uzur seperti saat cuaca panas di Masjidil Haram, maka tidak (dianggap) makruh dan lalai sebagaimana zahir,” (Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2011], halaman 296).

Secara hukum fikih, sepertiaman yang tertulis didalam Kitab I’anatut Thalibin : juzu 1 dan Kitab Sabilal Muhtadin : Juzu 1 bahwa shaf terpisah dalam shalat karena udzur pun tetap sah shalatnya namun berhukum makruh.

Jikalah shalat saja sah jika shaf berpisah atau berjarak secara sengaja apalagi karena udzur maka tidaklah mengapa dan Allah tentulah memaafkan bagi setiap hamba yang udzur.

Selain sistem lockdown dan karantina yang telah sesuai dengan hadits Rasulullah diatas, dan juga terhadap aturan MUI yang membatasi bentuk sifat keramaian dalam beberapa aspek ibadah sama persis semakna dengan Dalin Nas Naqli dan ‘Aqlinya. untuk itu apa yang telah dibuat pemerintah maka demikianlah sesuai dengan apa yang telah dibuat oleh Allah dan Rasulnya.

Oleh karenanya mengikut Allah dan Rasul serta para umara (pemerintah dan MUI-nya) adalah wajib selama masih dalam koridor Al-Quran dan Sunnah.

Allah berfirman didalam Al-Qur’an :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Surat An-Nisa’ : 59)

Demikianlah makna Islam sebagai agama yang Rahmatan lil alamin yang telah memberikan kontribusi baik tenaga maupun pemikiran dalam mencegah wabah Corona, agar kita sebagai bangsa dapat disatukan dalam sebuah persatuan untuk mematuhi umara dan ulama Indonesia dalam mendapatkan ridha Allah SWT.

Semoga kita selalu dalam ketaatan kepada Allah SWT dan dijauhi dari marabahaya virus baik untuk diri sendiri, keluarga dan seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Oleh : Tgk. Habibie M. Waly, S.TH
Penulis adalah Pendakwah dan Pimpinan Dayah Al Waliyyah, Darul Amarah, Aceh Besar/Cucu Syech H. Muda Waky dan anak daripada Alm. Abuya Prof. Muhibbuddin Waly.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

H+2 Lebaran,Lima Rumah Terbakar di Sambar Petir di Langkahan Aceh Utara

Wali-news.com,Aceh Utara-Kebakaran kembali terjadi di di Dusun Bidari,Gampong