Menebar Kebencian Di Tahun Politik

Menebar Kebencian Di Tahun Politik

0

Oleh : Mardiyanto

Kemunculan dunia digital, menjadi satu langka, kemajun informasi. Media social selain ruang  transformasi, di situ tempat saling tukar pendapat. Sering kita temui Kebebasan berpendapat meluas, melampaui realitas dari yang baik dan juga buruk, dobrakan kebebasan ini, kemudian berpengaru, serta mempenggaruhi perilaku social. Setiap manusia menjadikan media social sebagai tempat expresi, mempererat persaudaraan, dan kebersamaan social, harapan ini malah menjadi memudar, aliyas ‘” hayalan tingkat tinggi, tetapi mimpi yang tak sempurna”.

Akhir akhir ini ujaran kebencian, permusuhan, tindakan  agresif, dan egoisme melambung tingi. dinamika media social, serta pertarungan argument, sangatlah tajam, lebih tepatnya, tajamya kebencian. Pembenaran bukan lagi menjadi persyarat, yang terpenting bagaimana arti kebebasan itu terealisasi, hebatnya setiap induvidu berekspresi, tampa sensor.

Manusia bisa saja menumpuhkan apa saja di sana. Di tahun politik “pilkada”, media social, di isi dari selogan ”lanjutkan” sampai pada “torang jos” terlihat memanas, saling hujat ataupun memberikan dukungan penuh. Menggilanya  argumen politik ini, media social terlihat ramai,  orang orang menjadikan media social sebagai instrument, batu loncatan transformasi dari berita bijaknya para kandidat, sampai pada berita bejatnya para  kandidat. Tahun politik para pengiat media social, tidak mampu membedakan mana hoax dan yang benar, permusuhan media sosial sangat membahayakan, seperti di ingatkan “kolumnis jens jessen, media social bukan mempererat persahabatan, atau persaudaraan, mala mempertajam permusuhan. Orang bias saja saling mengecualikan, mereka dalam perbedaan pandangan saling menjatuhkan, negative, positive argument kebencian bias di temukan, setiap grup grup media social.  Faceebok ada namanya Grup Halut Memili, berbagai suku ras dan agama, setiap orang dengan latar belakang berbeda mengisi kolom kosong, grup itu sebagai tempat prebutan kuasa kata, panflet kandidat, visi misi di pajangan untuk menarik perhatian serta menamba kebencian, yang tidak sepaham, mulai mencari cara untuk menjatuhkan. Momen saling menjatuhkan ini terasa lucu, yang lebih lucunya lagi, para mahasiswa serta dosen sebagai tenaga pengajar berusaha menebar kebencian, sering kita temui argument yang melampaui realitas, artinya apa sedang di sampaikan terlihat kosong dalam dunia nyata.

Politik menghendaki tujuan umum, menciptkan keadilan, dan kesejahtraan. Tujuan ini sering kita temukan di berbagai literatur, anehnya politik uang dan transaksional antara pejabat public membudaya, menghadirkan pola baru menarik perhatian masyarakat dengan uang, ataupun janji jani manis, prilaku ini sangat mengancam masa depan politik serta melahirkan pemimpin pemimpin korup dan konservatif. politik uang ini memang lekat dengan praktik kekuasaan, di perlukan etika berpolitik sehat, penerapan etika politik mengarah pada terciptanya prilaku baik, “paul ricoeur 1990”. Sangatlah penting pendidikan etika politik terhadap masyarakat, peran, serta keterlibatan  partai politik di butuhkan, agar masyarakat dalam partisipasi politik, mampu memberikan hak suara serta memahami cara cara politik sehat serta beretika dalam berpolitik.

Ruang public, dari konsensus sampai pada pertentangan idiologis, merupakan dinamika social, di situ segalah dukungan dan kemarahan di tuangkan. Datang dari berbagai penjuru, dengan hasil surveinya, setiap orang menunjukan data para kandidat  satu dan lainya yang bakal menang ditahun ini. Cita cita ataupun mimpi tingkat tingi ini sebagai semangat ”tim sukses” ya, pemberian nama sukses biyar kinerjanya selalu termuat kata “menang”, dalam berkampanye, secarah lisan ataupun symbol dan tulisan , seperti komentar di Koran media social lainya. Sering kita temui manusia manusia seperti dewa “zeus” ataupun “Hermes” sang pembawa berita gembira, banyak kita temukan orang orang seperti ini, di tahun momen politik, yang selalu mengangap diri pintar, paling hebat, paling tau, paling mumpuni, manusia seperti ini, dalam analisis platon, manusia yang akhirya hanya akan di kelilingi para cukong, dan mereka akan di jadikan penyebar kebencian, dari doktrinasi politik jahat. Betapapun hebohnya perang kebencian yang beredar, sampai kita lupa tujuan bersama, demokrasi menuntut terciptanya keadilan, kesejahtraan social dan masi banyak lagi menjadi tujuan kita bersama, Pendidikan politik, dan peningkatan sumberdaya manusia sangatlah penting, serta peran pemerintah dalam hal ini sebagai penangung jawab. ”Dari menebar kebencian kita mengetahui keburukan, dari keburukan kita membenah diri untuk politik masa depan yang sehat dan baik”.

Wallauhu wa’lam………

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Ketua NU Kota Tikep Mengajak Bersama-sama untuk Menciptakan Bangsa Indonesia Yang Anti-Rasis dan Radikal.

Ketua NU Kota Tidore Kepulauan TIDORE – Ketua