Menjadi Manusia yang Bermanfaat

Menjadi Manusia yang Bermanfaat

0

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

APA YANG MEMBEDAKAN GELAS YANG MERASA SENANG LANTARAN DIRINYA TELAH PENUH DENGAN AIR DENGAN GELAS YANG SENANG MENGOSONGKAN DIRINYA ? 

Gelas yang senantiasa sudah penuh terisi dengan air tidak akan pernah merasakan nikmatnya air hujan segar, atau nikmatnya dipenuhi air baru dari yang menuangkannya, lantaran tidak ada lagi space atau ruang untuk menerima tambahan air lagi.

Sementara gelas yang airnya sering diminum, senantiasa akan dicuci dari kotoran kemudian diisi kembali dengan air yang baru.

Sama seperti manusia yang merasa dirinya sudah penuh terhadap sesuatu, entah itu dari sesuatu yang dia usahakan atau yang dia dapatkan lalu lupa mengosongkan dirinya (berbagi terhadap sesama), otomatis tentunya akan sulit menerima hal yang baru yang sebetulnya bisa membuatnya lebih bersih, lebih fresh pemikirannya, dan lebih dewasa karakternya, karena terus dibimbing dan ditambahkan ilmunya oleh Allah Swt melalui siapapun yang ia temui.

Orang yang senang berbagi ilmu kepada sesama, ternyata dari pengalamannya berbagi ilmu itu, Allah Swt meluaskan aspek ilmu tersebut ke jenjang pemahaman yang lebih luas, lebih arif dan lebih bijak. 

Orang yang senang berbagi makanan (kenduri), berbagi sedekah, berbagi senyum dan berbagi suka, ternyata pengalaman tersebut menghadirkan satu rasa spiritual yang baru, yaitu rasa yang didapatkan ketika engkau semakin bermanfaat kepada yang lain.

Manusia yang sudah merasa mencapai level yang dinginkan akan sulit berkembang dan bertumbuh dibandingkan dengan manusia yang kesehariannya justru merasa semakin banyak dia mencari ilmu semakin disadari bahwa ia ternyata tidak tahu apa-apa.

Inilah hakekat dari menyambung tali batin dengan sumbernya Sang Pemilik Segala-galanya, bahwa Allah Swt senantiasa akan memberikan pertolongan dan kemudahan dari jalan-jalan yang tidak disangka-sangka sehingga pemahaman ilmunya semakin baik, hidupnya semakin dinikmati karena keberkahan dari tahu cara berpikir dan cara merasa akan sesuatu.

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” [HR. Muslim 4832, 4851; Tirmidzi 3527, Ahmad 7115]

Bukankah Allah itu bagaimana sangkaan makhluknya, sebagaimana Guru itu bagaimana sangkaan muridnya, sebagaimana Suami itu bagaimana sangkaan istrinya, Orang Tua itu bagaimana sangkaan anak-anaknya, bahkan Atasan kita di kantor itu tergantung bagaimana sangkaan bawahannya.

Manusia yang senang mengosongkan dirinya akan merasa bukan siapa-siapa sehingga hati dan pikirannya hanya sangkaan baik saja kepada Tuhannya, sehingga hubungan dengan manusia dan makluk lain pun di jaga oleh Allah Swt efek dari sangkaan baik-nya itu.

Bila diatas langit masih ada langit, dan tiap-tiap langit selalu saja ada tangan-tangan Tuhan yang tidak kita sadari atau terlihat oleh mata kita, namun sebenarnya disitu ada rahasia-rahasia Ketuhanan yg senantiasa merespon ucapan, doa, sikap, perbuatan, kebiasaan, dan karakter seorang anak manusia yang semua itu lahir dari sangkaan-sangkaan yang kita tanamkan di hati dan pikiran kita.

Allah Swt Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ia adalah Zat yang mampu memuliakan manusia yang telah hina, juga bisa menghinakan manusia yang tadinya Mulia. Allah mampu meng-kayakan si miskin dan memiskinkan si kaya. Allah mampu mercerdaskan si bodoh, dan membodohi si pintar.

Apalah daya kita, melainkan karena telah sampainya pertolongan Allah Swt sekalipun itu melalui pertolongan makhluk. Kesannya ada Manusia yang telihat mulia, padahal kenyataannya Allah Swt telah menutup aib-aibnya dan memudahkan jalan ibadahnya.

Sebaliknya ada manusia yang terlihat hina, padahal bisa saja karena Allah Swt sedang menutup kebaikan dan kemuliaan orang itu karena alasan sedang di uji keimanannya.

Jika gelas itu adalah diri kita, gelas yang bagaimanakah yang anda ingin fungsikan ?

خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadits Riwayat ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Ausath, juz VII, hal. 58, dari Jabir bin Abdullah r.a., dishahihkan Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitab: As-Silsilah Ash-Shahîhah)

Salah seorang Guru Mursyid yang bernama Al Habib Rais Radjaly (Al Habib Abu Bakar Musya’ah) bin Thahir bin Hasyim, pernah mengajarkan kepada kami kepada suatu renungan :

“Kalau bukan Kesenangan itu adalah Syurga, janganlah terlalu bergembira, SYUKURI saja lantaran kesenangan juga tidak akan abadi”.

“Dan kalau kesulitan itu bukanlah Api Neraka, janganlah terlalu bersedih, SABAR saja, lantaran kesulitan dan penderitaan juga tidak akan abadi”.

“Jangan menanti orang lain menghormati kita lantaran merasa gelas kita adalah yang paling penuh diantara yang lain. Namun hormati siapa saja yang engkau temui, sehingga dengan demikian gelasmu akan senantiasa terisikan kembali karena telah berbagi terhadap sesama”.

Semoga Allah Swt memudahkan diri kita semua untuk meneladani sifat-sifat dan karakter-karakter seperti  itu.

  • Penuis : Tgk Muhammad Waliul Amri Wali Bin Abuya Tgk Djamaluddin Wali

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Penderita Sembuh 131 Orang, Bireuen Dominasi Kasus Konfirmasi Covid-19

Wali-news, Banda Aceh—Penderita Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang