Operasi Sapu Jerat di Aceh Besar, Pidie dan Aceh Timur, Ini Temuan BKSDA

Operasi Sapu Jerat di Aceh Besar, Pidie dan Aceh Timur, Ini Temuan BKSDA

0

wali-news.com, Banda Aceh – Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menemukan sebanyak 63 jerat berbagai jenis ukuran dan bahan yang dipasang pemburu rusa dan hewan lainnya di hutan dalam tiga kabupaten.

Jerat sebanyak itu ditemukan BKSDA bersama KPH Wilayah I Aceh saat melaksanakan Operasi Sapu Jerat di tiga wilayah di Aceh, 21 – 30 September 2019 lalu. Yakni, di Kabupaten Aceh Besar satu tim dan wilayah Aceh Timur dan Pidie masing-masing dua tim. Setiap tim beranggotakan lima personel.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si., menjelaskan operasi selama 10 hari itu dilaksanakan atas dukungan proyek CIWT, Kerja Sama Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Global Enviromental Facilty (GEF) dan United Nation Development Program (UNDP) Indonesia Program.

“Dari hasil pelaksanaan operasi di lapangan diperoleh sebanyak 63 jerat dari berbagai jenis ukuran dan bahan. Mulai dari bahan senar pancing, kawat/dawai dan tali PE. Bahkan ada jerat kombinasi antara tali PE dengan dawai/kawat tergantung dari jenis hewan yang menjadi sasaran buruan,” kata Sapto melalui siaran persnya, Jumat, 4 Oktober 2019.

Sapto menyebutkan, penggunaan tali PE ini bertujuan agar hewan buruan tidak mudah terluka atau mati saat kena jerat, dan jenis ini umumnya digunakan untuk memburu rusa. Sedangkan jerat berbahan kawat baik itu tunggal maupun berjumlah banyak umumnya digunakan untuk berburu babi. Namun, beberapa kasus di lapangan yang terjerat bukan hanya babi, tetapi menjerat beruang, harimau bahkan gajah.

“Murahnya harga dan kemudahan memperoleh bahan untuk pembuatan jerat tentunya menjadi faktor utama di dalam penggunaan jerat oleh para pemburu,” tutur Sapto.

Tim di lapangan juga menjumpai pondok yang sengaja dibuat oleh pemburu. Artinya, kata Sapto, pemburuan terhadap satwa ini dilakukan selama berhari-hari sehingga para pelaku harus bermalam di hutan.

Tim yang berkonsentrasi di Kawasan Konservasi TWA dan CA Jantho juga mendapati dua bangkai rusa yang terkena jerat. Akan tetapi tidak sempat diambil oleh pemburu diduga akibat adanya Pelaksanaan Kegiatan Penjagaan di Pos Pengamanan Kawasan Hutan TWA dan CA Pinus Jantho selama dua bulan terakhir yang dilaksanakan oleh petugas BKSDA Aceh, Polsek Jantho, Ranger Jantho dan masyarakat setempat.

Selain melakukan Operasi Sapu Jerat, tim juga melakukan sosialisasi terhadap masyarakat yang dijumpai di lapangan untuk tidak menggunakan jerat karena sangat membahayakan. Penggunaan jerat juga mengancam keselamatan manusia,” ujar Sapto.

Menurut Sapto, operasi ini wujud komitmen “perang terhadap jerat” yang telah dicanangkan Dirjen KSDAE dan Dirjen Gakkum LHK pada Juli 2019. “Operasi Sapu Jerat dan penyadartahuan tentang bahaya jerat yang mengancam kelestarian satwa liar dilindungi, akan terus dilakukan dengan dukungan para pihak,” Kepala BKSDA Aceh.(rilis)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Rumah Yatim Terima Bantuan Dari Satbrimob Polda Aceh dan Bhayangkari

Banda Aceh – Personil Satbrimob Polda Aceh dan Pengurus