Pentingnya Menjaga Dan Melestarikan Keberagaman Etnik Budaya Bangka Belitung

Pentingnya Menjaga Dan Melestarikan Keberagaman Etnik Budaya Bangka Belitung

0
Ketua DPC Permahi Babel Aprizal Palewa

Penulis : L.M Aprizal Palewa Putra, S.H.*

Indonesia memiliki keragaman etnik dan budaya serta keberagaman suku dan budaya yang beragam mencakup rumah adat, pakaian adat dan tarian daerah. Dalam KBBI etnik atau etnis bertalian dengan kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa dan sebagainya. Sedangkan Kemendikbud RI menjelaskan bahwasanya etnik atau etnis disebut juga suku bangsa.

Menurut hemat penulis suku bangsa adalah sekelompok manusia yang mempunyai kesatuan budaya dan terikat oleh kesadaran budaya tersebut sehingga menjadi identitas. Kesasdaran dan identitas biasanya dikuatkan oleh kesatuan Bahasa seperti di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang memilki keberagaman Bahasa dari Bahasa Melayu, Bahasa bugis, Bahasa tionghoa dan Bahasa Buton.

Ciri suku bangsa adalah memiliki kesamaan kebudayaan, bahasa, adat istiadat, dan nenek moyang. Ciri mendasar yang membedakan keberagaman budaya di Bangka Belitung adalah bahasa daerah, adat istiadat, sistem kekerabatan, kesenian daerah, dan tempat asal daerah.

Keberagaman kebudayaan di Bangka Belitung terutama terbentuk oleh jumlah suku yang tinggal di berbagai lokasi yang tersebar, setiap suku memiliki ciri atau karakter tersendiri dalam aspek sosial atau budaya. Keanekaragaman budaya Bangka Belitung yang terdiri dari beberapa Kota dan Kabupaten seperti Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Barat, Kabupaten Belitung, Kabupaten Belitung Timur dan Kabupaten Bangka Selatan merupakan aset yang tidak ternilai harganya, sehingga harus tetap dipertahankan dan dilestarikan.

Contoh keberagaman etnik dan budaya di Bangka Belitung adalah rukun dan akurnya masyarakat Tiongkok dan Melayu. Event budaya besar yang berhubungan dengan nelayan, yakni, upacara rebo kasan dan buang jong. Selain itu ada ritual-ritual budaya yang dipengaruhi unsur religi, sementara pertunjukan kesenian Barongsai mewakili kebudayaan masyarakat pendatang (Tionghoa). Toleransi beragamanya sangat tinggi dan perlu diapresiasi seperti berdampingannya Masjid yang menjadi tempat ibadah umat Islam dan Klenteng yang menjadi tempat ibadah agama Konghucu.

Ada lagi sepintu sedulang yang menjadi semboyan dan motto masyarakat Kabupaten Bangka yang bermakna adanya persatuan dan kesatuan serta gotong royong. Ritual ini adalah satu kegiatan penduduk pulau Bangka Belitung pada waktu pesta kampung membawa dulang berisi makanan untuk dimakan tamu atau siapa saja di balai adat. Dari ritual ini, tercermin betapa masyarakat Bangka Belitung menjujung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta gotong royong, bukan hanya dilaksanakan penduduk setempat melainkan juga dengan para pendatang. Keragaman budaya inilah yang belakangan menjadi aset penting untuk mengembangkan pariwisata dalam Bangka Belitung.

Wujud keanekaragaman budaya Bangka Belitung yang tersebar di berbagai kota dan Kabupaten itu terlihat sangat indah dan menarik. Toleransi dan saling merangkulnya keberagaman etnik dan budaya ini membuat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sangat elok dan indah, nyaman di pandang mata bila orang melakukan plesiran atau berwisata di daerah ini.

Menurut hemat penulis seyogyanyamasyarakat Bangka Belitung memiliki keberagaman agama, suku, adat dan budaya yang harus dijaga dan dikembangkan untuk kedepanya, karena nilai-nilai akan hal ini telah tertuang dalam Perda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Nomor 3 Tahun 2019. Kalau bukan masyarakat Bangka Belitung yang menjaga dan mengembangkan keberagaman etnik dan budaya ini siapa lagi. Sebab daerah kita menjadi besar ketika kita bersama berbuat akan hal itu.

*Penulis merupakan Ketua DPC Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Bangka Belitung / Alumni Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung (FH-UBB)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

UU OBL Cipta Kerja Disahkan, Begini Tanggapan Wakil Ketua Komisi II DPRD Pangkalpinang

Pangkalpinang – Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota