Peredaran Narkoba di Malang Dikendalikan dari Balik Jeruji Besi

Peredaran Narkoba di Malang Dikendalikan dari Balik Jeruji Besi

0

WALI – Genderang perang melawan pengedar narkoba terus ditabuh Polres Malang. Tidak tangung-tangung, tiga tersangka diringkus langsung. Mereka adalah, Gala Gita Rahanjaya dan Wawan Setya Budi.

Keduanya merupakan warga Jalan Segaluh Kelurahan/Kecamatan Dampit. Berselang sebulan kemudian, giliran Fajar Yuli Tri Prasetyo warga Jalan Panglima Sudirman Desa/Kecamatan Wajak juga turut diamankan. Ketiganya diringkus polisi, lantaran terlibat jaringan peredaran sabu, Jumat (26/10/2018).

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung menjelaskan, berawal dari info masyarakat terkait maraknya peredaran narkoba di wilayah hukum Polres Malang. Membuat petugas bergegas melakukan penelusuran. Alhasil, dua tersangka yakni Rahanjaya dan Wawan diringkus bersamaan. “Mereka (tersangka) kami amankan saat melakukan koordinasi di rumah salah satu pelaku,” kata Ujung kepada wartawan.

Saat dilakukan penggerebekan keduanya tidak bisa mengelak jika terlibat jaringan peredaran sabu. Selama ini, keduanya mendapatkan barang haram tersebut, dari salah satu narapidana (napi) di lapas Lowokwaru.

“Napi yang dimaksud ternyata tidak ada di tahanan Lowokwaru, akan kami dalami terkait dalang peredaran sabu ini,” tegas Ujung.

Selama ini antara pengedar dan kedua tersangka tidak pernah bertatap muka. Motifnya, jika pasokan sabu habis, pelaku akan menghubungi yang bersangkutan melalui handphone. Seketika itu juga, bandar yang diduga merupakan seorang tahanan itu, menyuruh kurirnya untuk mengantarkan paketan, sesuai dengan tempat yang sudah disepakati. “Mereka (kedua tersangka dan bandar) hanya berkomunikasi melalui telphone,” sambung Ujung.

Pria yang berusia 28 tahun dan 30 tahun itu, kini harus mendekam di balik jeruji tahanan untuk mempertangungjawabkan perbuatannya. Selain tersangka, 11 poket sabu siap edar seberat 50,6 gram, dua handphone untuk komunikasi dengan bandar, serta seperangkat alat hisab sabu, turut diamankan polisi sebagai barang bukti.

“Berawal dari ungkap kasus tersebut, kami melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan seorang pengedar lainnya,” tutur Ujung.

Ujung menambahkan, berselang dua pekan kemudian, Fajar turut diringkus polisi sebab juga terlibat jaringan sabu, 15 Oktober lalu. Tersangka diamankan saat ada di rumahnya. Modusnya nyaris sama, yakni dipasok sabu dari oknum napi yang ditahan di lapas Madiun. Sistim ranjau, menjadi cara untuk mengambil barang haram tersebut dari tangan bandar. Dengan sarana handphone dan telphone, sabu yang sudah ditaruh ditempat yang disepakati, bakal diambil oleh yang bersangkutan.

“Ketiga tersangka merupakan pemain lama,” imbuh Ujung.

Dari tangan pria 27 tahun itu, polisi mendapati barang bukti berupa 1 poket sabu seberat 15,33 gram, 1 poket seberat 2,28 gram, seperangkat alat hisab, buku rekapan penjualan dan timbangan, ATM serta bukti transfer penjualan sabu senilai Rp 1,7 juta, dan satu unit handphone yang selama ini digunakan untuk komunikasi dengan bandar dari balik tahanan, turut diamankan petugas.

“Ketiga tersangka kami jerat pasal 114 ayat 1 Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika, ancaman maksimal 15 tahun penjara,” tegas Ujung.

Guna meminimalisir peredaran narkoba yang kian marak. Ujung mengaku sudah melakukan beberapa upaya untuk memberantas peredaran barang haram tersebut. Selain aktif melakukan penyuluhan dan sosialisasi ke sekolah dan komunitas. Pihaknya juga bakal menindak tegas para pengedar narkoba, yang nekat menjual sabu ke wilayah hukum Polres Malang.

“Dari data yang kami himpun, Kabupaten Malang sementara masih masuk kategori menengah ke bawah, sebab masih menjadi sasaran distribusi, bukan pemasok utama narkoba,” ujar Ujung.

Sumber : Malangtimes.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Disdik Aceh dan Kemendikbud Ristek Gelar Bimtek E-Pembelajaran Berbasis TV dan Suara Edukasi

Wali-news.com, Banda Aceh – Pada saat ini teknologi