Provinsi Tergariskan Dan Hatipun Tergoreskan

Provinsi Tergariskan Dan Hatipun Tergoreskan

0

Toleransi multi etnis & multi agama harus diakui masih banyak larut dalam pengetahuan dan pembicaraan semata, belum sepenuhnya jadi kelakuan kolektif warga negara yang katanya adalah bangsa.

Pendidikan belajar pancasila dan “kewarganegaraan” (yang sudah hilang) sudah seharusnya re-start strategy bukan hanya dievaluasi dengan angka semata. Namun juga harus dievaluasi dengan cara melihat porsi yang lebih besar pada aspek sikap dan karakter, hingga bukan sekedar knowlegde.

Bermultikulturalah berbangsa yang golnya bukanlah saling berebut wacana identitas “jika aku dari agama A dan aku dari suku B” Maka akulah yang paling toleransi. Tuman!
Belajar Toleransi butuh aspek jasad dan ruh yang harus ditempa oleh setiap generasi

Agar pancasila dan Islam tak mandeg pada jargon-jargong yang disimbolkan dengan kata tanpa prilaku yang subtantif. Secara implisit kalau benar adanya Islam garis keras dari histo-geografis, maka akan ada respon untuk tercipta tudingan “they are” Pancasila garis keras. Semua membentuk tesa-tesa masing-masing dan menjadi antitesa dalam untuk saling berebut wacana paling Islam dan paling Pancasila.

Kembalilah pada memoar kolektif historis
Manusia yang secara geografis pernah hidup di bumi yang kini diberi nama “Indonesia” di zona waktu itu pra kolonialisme dan pra kemerdekaan periodesasi pasca Islam masuk di Nusantara.

Lihatlah kehidupan mereka tanpa dan sebelum Pancasila ada, jika seorang penulis hebat Graham E Fuller pernah menulis “Dunia tanpa Islam” yang diproyeksikan untuk deskripsi masa depan.

Lalu kita kenapa tak bisa melihat ke belakang yang pernah ada harmonisasi Islam Nusantara tanpa “Pancasila” mereka bersatu melawan penjajah bersama dengan yang non Muslim juga.

Kehadiran Idelogi Pancasila yang harusnya menjadi lebih perekat bangsa namun hanya jadi slogan yang belum mampu naik tahap jadi kelakuan dan menjaga perkataan dari menyakiti hati dan psikologi salah satu etnis dan suku manapun.

Mudah-mudahan kita termasuk Muslim yang menjaga lisan bersama agar tak menyakiti keragamaan yang ada. “Kebenaran bisa berpindah-pindah dipihak manapun”

إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيِّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرً قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ? Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”

Berbangsa harusnya saling memahami bukan hanya mengenal. Indonesia masih harus berlayar jauh untuk sampai perhentian, yang paling tidak kita sebut persatuan. Persatuan itu harus muncul dari keberagaman, apa saja tubuh secara fisik atau nilai yang bersifat imaginatif.

Persatuan ada dari mengenal perbedaan, persatuan bukan memukul rata dua aspek, fisik dan nonfisik. Tapi memahaminya, memahami dengan segenap kesadaran bahwa kita punya local wisdom masing-masing daerah yang tak sama, tapi kita bersama-sama bersujud di bumi Indonesia.

Jika ingin disebut Muslim Non-garis keras mari saling memaafkan jika diantara kita ada yang khilaf, tampakkan Islam yang ramah tanpa caci maki, Kebenaran sebaiknya disampaikan dengan karakter akhlak yang santun dan elegan.

Oleh : Muhammad Ridho Agung, Alumni MPI FITK UIN SUKA

Email : ridhoagung0@gmail.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Disdik Aceh dan Kemendikbud Ristek Gelar Bimtek E-Pembelajaran Berbasis TV dan Suara Edukasi

Wali-news.com, Banda Aceh – Pada saat ini teknologi