YARA Gelar Diskusi Bertemakan “Terima Kasih Polisi”

YARA Gelar Diskusi Bertemakan “Terima Kasih Polisi”

0

wali-news.com, Banda Aceh– Upaya pemberantasan LGBT yang di Aceh mendapat dukungan dari berbagai elemen sipil di Aceh. Yayasan Advokat Rakyat Aceh (YARA) sebagai salah satu lembaga yang selama ini eksis memperjuangkan berbagai persoalan hukum di Aceh menggelar diskusi publik dengan mengangkat tema “Terima Kasih Polisi” di 3 in 1 Banda Aceh, Minggu (04/02/2018).

Ketua YARA Safaruddin SH mengatakan, pihaknya mendukung penuh sikap yang dilakukan Kapolres Aceh Utara Ahmad Untung Sangaji yang telah berani menegakkan syari’at islam di Aceh dengan upaya memberantas para pelaku LGBT.

“Kami sepenuhnya mendukung Kapolres yang dengan tegas dan berani membina beberapa warga Aceh Utara yang berperilaku waria/LGBT,” ujarnya.

Menurut Safar, LGBT di Aceh harus dibasmi secara menyuruh karena LGBT lebih berbahaya dari narkoba.

“Kita mendesak pemerintah dan DPRA agar cepat membahas qanun LGBT,” tegasnya.

Hasan Basri Dosen Uin Ar-Raniry selaku narasumber dalam diskusi publik mengatakan, perkawinan sejenis di Eropa sudah ada sejak lama, karena di negara-negara barat tersebut bebas. Namun di dalam islam perkawinan sejenis tidak ada. Ini bukan sejarah yang baru, Negara barat sangat menunggu isu perkawinan sejenis ini.

Hasan menambahkan, perilaku LGBT tersebut perlu dibendung. Meskipun di negara-negara Barat penolakan terhadap LGBT dianggap melanggar HAM, namun untuk di Indonesia apalagi di Aceh penolakan terhadap LGBT tidak dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang melanggar HAM.

“Kalau negara barat hal itu tidak diatur, sehingga LGBT bebas total. Namun, ketika masuk ke Indonesia LGBT tak ada tempatnya,” tegasnya.

Di Aceh khususnya, lanjut Hasan, ada beberapa qanun yang mengatur hal ini diantaranya qanun jinayah dimana perkawinan sesama jenis akan dicambuk 100 kali cambuk.

“Tindakan yang dilakukan Kapolres Aceh Utara dalam pemberantasan LGBT, sudah mulai masuk dalam bagian penedakan Syariah Aceh serta pengembalian kodrat manusia,” jelasnya.

Bisexual, tambah Hasan, memang belum diatur secara khusus namun hal ini termasuk zina dan bisa dikenakan cambuk,

Sementara itu, ketua Fraksi PAN DPRA Asrizal mengatakan, persoalan LGBT ini sudah diatur di dalam qanun tapi belum begitu lengkap.

“Kita sudah akan sampaikan ketua DPRA, agar perbuatan lebih kepada memproteksi, yang kita ingin dalam rumusannya waria agar diperjelas penafsirannya yakni laki-laki yang menyerupai perempuan, atau perempuan yang laki-laki. Sehingga dapat diberlakukan hukum pindana, agar ada efek jera kepada para pelaku,” ujarnya.

Turut hadir dalam diskusi tersebut, ketua Fraksi PAN DPRA Asrizal, Dosen Uin Ar-Raniry Hasan Basri, Akademisi, puluhan elemen masyarakat dan pemuda dari berbagai unsur tamu lainnya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Rumah Yatim Terima Bantuan Dari Satbrimob Polda Aceh dan Bhayangkari

Banda Aceh – Personil Satbrimob Polda Aceh dan Pengurus