44 Kota Inflasi dan 38 Kota Deflasi. Pengamat Ekonomi: Inflasi atau Deflasi Terlalu Tinggi bisa Membahayakan

44 Kota Inflasi dan 38 Kota Deflasi. Pengamat Ekonomi: Inflasi atau Deflasi Terlalu Tinggi bisa Membahayakan

0
Kondisi Inflasi dan Deflasi saat ini di beberapa wilayah di Indonesia

wali-news.com, Makassar – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), secara nasional tingkat inflasi pada bulan Agustus adalah sebesar 0,12%.

Dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), sebanyak 44 kota mengalami inflasi. Sementara 38 kota lainnya atau sekitar 46% mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Kota Kudus, yakni sebesar 0,82%. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, sebesar -2,10%. Sementara deflasi terendah berada di Kota Tegal dan Palopo dengan nilai masing-masing -0,02%.

Pengamat ekonomi Dr. Ir. Yonggris Lao, MM., menuturkan, dilihat dari segi praktisi ekonomi, yang diperlukan bukanlah inflasi ataupun deflasi, tetapi kestabilan. Kestabilan tersebut memiliki range harga suatu barang tidak terlalu tinggi dan tidak merosot terlalu murah.

“Dari segi praktisi ekonomi, yang diperlukan adalah kestabilan, sehingga keadaan yang terbaik adalah stabil, bukan ketika deflasi ataupun inflasi,” jelasnya.

Ia melanjutkan, meskipun demikian, inflasi dan deflasi juga dibutuhkan karena inflasi artinya harga produksi mengalami peningkatan. Jika tidak terjadi inflasi, maka harga suatu barang akan sama dari tahun ke tahun, sehingga dengan adanya inflasi produksi menjadi lebih bernilai.

Meskipun demikian, inflasi yang terlalu tinggi juga membahayakan perekonomian suatu wilayah.

“Inflasi yang baik adalah inflasi yang dapat diprediksi akan terjadi kenaikan harga barang dengan harga tertentu, sehingga produsen, konsumen, dan pelaku bisnis dapat mempersiapkannya,” terangnya.

Terjadinya deflasi di suatu kota/ kabupaten juga dapat berdampak pada produsen, seperti petani, peternak, dan sebagainya, sehingga mereka akan mengalami kerugian.

“Oleh karena itu, inflasi tetap dibutuhkan agar para petani dan produsen lainnya makmur,” tuturnya.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa kompensasi kenaikan inflasi biasanya juga diiringi dengan kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) bagi para konsumen di mana persentase UMR ditentukan oleh persentase inflasi.

(Tiara Ayu)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Refleksi Akhir Tahun, DPRD Kota Makassar Gelar Diskusi Publik Masalah Aktual Kemasyarakatan

wali-news.com, Makassar – Sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan di