Cegah Corona,Pasantren Tertua di Aceh,Berlakukan Lockdown Untuk Satri dan pengunjung.

Cegah Corona,Pasantren Tertua di Aceh,Berlakukan Lockdown Untuk Satri dan pengunjung.

0

Walinews-Labuhan Haji

Pandemi Covid-19 yang kian hari penularannya
semakin meluas membuat pemerintah Indonesia melakukan tindakan serius dalam memerangi wabah tersebut.

Data terbaru yang dirilis oleh Pemerintah Indonesia,Minggu (22/93) korban yang telah positif terinfeksi Covid-19 sudah
sebanyak 514 orang dan yang meninggal dunia sebanyak48 orang.

Saat ini pemerintah sudah membuka diri untuk bekerjasama dengan semua Negara yang ingin membantu Indonesia dan Masyarakat indonesian sendiri dalam memutus rantai penularan Civid-19 tersebut.

Saat ini pemerintah meminta adanya kerjasama yang baik dari semua pihak,untuk melawan serangan virus Corona secara bersama.

Tak terkecuali, Pondok Pesantren (Dayah) Darussalam yang
terletak di desa, Blang Poroh, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Kabupaten
Aceh Selatan, ini juga tak tinggal diam dalam mengantisipasi mewabahnya Corona tersebut, Dengan menerapkan beberapa kebijakan dalam usaha
melakukan pencegahan.

Kendati proses
belajar mengajarnya tidak diliburkan, namun upaya pencegahan terus dilakukan dengan sangat ketat,

Bahakam sejak 15 Maret 2020 lalu, Dayah yang berdiri sejak 1940 itu telah memberlakukan kebijakan pembatasan pergerakan atau “lockdown” terhadap para santrinya.

Semua Santri atau Dewan Guru yang berada di Dayah tersebut dilarang untuk keluar dari komplek hingga sampai tanggal 1 April 2020 menadatang.

Dan bahkan keluarga santri yang ingin berkunjung, mereka juga tidak
di benarkan masuk sampai batas waktu yang telah ditentukan.

Pimpinan Dayah Darussalam melalui Sekretaris Umumnya Abi Hidayat Muhibbudin Waly,Meuturkan kebijakan ini sengaja diambil sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah saw saat umatnya ditimpa wabah seperti saat ini.

“Nabi sudah mengajarkan kepada kita untuk menghindari daerah yang
sudah terkena wabah, Bagi orang yang sudah berada didalamnya juga
dilarang untuk keluar. Karena kita meyakini di luar sanat sudah ada yang terinfeksi akan wabah tersebut, maka untuk proses pencegahannya,
sementara waktu para santri disini kita larang untuk keluar dan sebaliknya
yang berada diluar tidak kita izinkan masuk, sekalipun itu keluarganya”. Kata
Abi Hidayat kepada Wali-News.com.

“Namun demikian, bila keadaannya sudah darurat maka kita akan memberi kebijakan khusus. Misalnya seperti beberapa waktu lalu, ada santri yang ibunya sakit namun dirumahnya tidak ada yang menjaga, maka kita pun memberikannya
izin untuk pulang.

tapi dengan catatan santri tersebut tidak dibenarkan
kembali ke Dayah Darussalam untuk sementara waktu”. Tambah Abi Hidayat.

Disamping melakukan “Lockdown”, Dayah Darussalam juga memberikan pemahaman kepada para santri tentang Virus Covid-19 melalui
sosialisasi yang dilakukan di dalam komplek.

Lebih jauh tutur Abi Hidayat, untuk melakukan pencegahan tidak cukup dengan hanya menghimbau atau melarang mereka menghindari tindakan-tindakan yang berpotensi tertular virus tersebut,

Namun kita juga memberikan pemahaman tentang
bahaya dan cara pencegahannya. Karena itu, Abi Hidayat berharap
Pemerintah juga ikut melakukan sosialisasi agar terciptanya kesadaran
di tengah masyarakat terhadap Pandemi yang sedang melanda negeri ini.

Saat disinggung tentang penundaan shalat berjamaah dan shalat Jum’at seperti yang di terapkan di beberapa kota dalam Indonesia,DKI Jakarta,Jawa dan beberapa tempat di pulau Sumatra, Abi Hidayat sependapat.

Menurut beliau itu di perbolehkan untuk menghindari kemudharatan. Namun tentunya berlaku di daerah yang memang sudah di nyatakan Darurat Corona dan ada yang sudah menjadi korban,Namun di Aceh sendiri menurut beliau belum sampai ke tahap itu.

“Untuk daerah kita Aceh belum terlalu mendesak. Cukup dengan melarang
orang-orang yang rentan terinfeksi saja agar shalat dirumah. bagi yang mereka yang shalat di Mesjid harus melakukan tindakan-tindakan pencegahan agar tehindar dari bahaya tersebut,tentu dengan tidakan benar dengan pola menjaga kesehatan diri” Tegas Abi Hidayat

Meskipun belum darurat, Abi Hidayat berharap kita tidak boleh sombong
seolah-olah penyakit ini tidak mungkin sampai,Usaha pencegahan tetap harus dilakukan secara maksimal.

Namun yang bagi daerahnya sudah terkena virus itu untuk tidak merasa takut berlebihan sehingga sampai
meninggalkan shalat.

“Takut boleh tapi jangan berlebihan. Makna takut disini adalah menghindari diri dari potensi terinfeksi virus tersebut.

Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw: “Saat kamu melihat penyakit menular maka berlarilah seperti kamu melihat harimau”. Jadi sangat keliru bila kita mengatakan tidak boleh takut terhadap Corona, karena makna takut terhadap Allah dan virus Corona itu adalah dua hal yang berbeda. Satu takut dalam arti taqwa,
sedangkan satu lagi takut berdasarkan insting sebagai manusia”. Kata
Abi Hidayat menjelaskan.

Terakhir, Abi Hidayat berpesan agar kita selalu memelihara wudhu’
sebagai bentuk menjaga kesucian dan kebersihan diri. Serta terus
berdoa, perbanyak istiqfar dan membaca Qunut Nazilah saat shalat lima waktu agar kita terhindar dari penyakit yang sedang mewabah ini,Upaya pencegahan perlu namun pendekatan kita dengan sang pencipta agar terbebas dari wabah ini ,itu lebih sangat penting,Ucap Abi memberikan nasehat.( fauzi Al-Adani )

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Disdik Aceh dan Kemendikbud Ristek Gelar Bimtek E-Pembelajaran Berbasis TV dan Suara Edukasi

Wali-news.com, Banda Aceh – Pada saat ini teknologi