Diimbau Beraktivitas, Seribuan Santri Kembali ke Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee

Diimbau Beraktivitas, Seribuan Santri Kembali ke Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee

0
Pondok Pasantren Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, di Gampong Siem Kecamatan Darussalam Aceh Besar. Pemerintah Aceh mengimbau pasantren untuk kembali beraktivitas setelah libur sejak Maret 2020 lalu, akibat Pandemi Corona. Photo: Wali-news/ Win.

Wali-nes, Aceh Besar – Sebanyak 1000 santri dan santriwati dijadwalkan akan kembali ke Pondok Pasantren di Gampong Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Mereka akan melanjutkan proses belajar mengajar, seiring imbauan pemerintah Aceh bagi dayah atau pondok pasantren kembali beraktivitas setelah libur akibat Pandemi Corona (Covid-19).

“Setelah libur selama hampir 2 bulan, terhitung mulai 1 Juni 2020, kami mulai melanjutkan aktivitas. Keputusan ini menyikapi imbauan yang kami terima dari Badan Dayah agar Pondok Pasantren melaksanakan aktivitas belajar mengajar seperti biasa, ” Kata Ketua Yayaysan Dayah Darul Ihsan, Tgk. H Musannif SE, kepada wali-news, Sabtu (30/05/2020).

Menurut Musannif, sejumlah persiapan sebagaimana protokol kesehatan, terus dilakukan pihaknya untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 di lingkungan Pasantren Darul Ihsan. Pasalnya, tak hanya kabupaten/ kota di Aceh, santri dan santriwati yang akan kembali juga berasal dari zona merah penyebaran Virus Corona seperti, Jakarta, Medan, dan sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand.

“Kami mewajibkan beberapa hal terkait dengan protokol kesehatan, misalnya dengan meminta wali (santri/santiwati), melengkapi surat kesehatan bagi anak-anak mereka dari daerah asal masing-masing,” Kata Tgk Musannif.

Dikatakan, surat tersebut hanya surat sehat, bukan surat bebas Covid-19 yang dinilai akan memberatkan wali santri/santriwati karena biaya pemeriksaan yang mahal jika atas permintaan pribadi.
“Kalau surat bebas Covid itu berbiayakan kalau atas permintaan sendiri dan mahal. Untuk Rapid Tes saja yang kami tahu sampai 65.0000 sedang SWAB sampai 1,5 juta. Jadi tidak mungkin kita bebankan itu,” kata bekas anggota DPRA ini.

Musannif mengatakan keberadaan surat tersebut, bertujuan untuk memastikan santri dalam kondisi siap mengikuti proses belajar mengajar. Wali santri/santriwati juga diminta melengkapi anak-anak mereka dengan Cairan Hand Sanitizer serta Masker.

“Terutama masker kain karena bisa dicuci. Jadi selama mengikuti proses belajar mereka bisa memakai masker. Diawal penerimaan, khususnya saat masuk itu akan kami sediakan karena kami juga akan melakukan beberapa pemeriksaan seperti suhu tubuh dan menyemprot barang bawaan santri dengan cairan disinfektan,

Mussanif menambahkan, santri yang kembali ke Pasantren Dayah Darul Ihsan pada 1 Juni terdiri dari empat kelompok atau jenjang. Umumnya mereka merupakan santri yang naik kelas mulai dari Kelas I hingga Kelas VI.

“Santrinya berkisar 1000-an. Mereka kebanyakan dari Aceh semua, tapi ada juga dari Jakarta, Medan, Riau, dan Batam dan ini kebanyakan zona merah.(penyebaran Covid-19). Kalau secara keseluruhan termasuk tenaga pengajar itu sekitar 1500 orang,” kata Tgk Musannif.

Meski sejumlah santri berasal dari daerah zona merah, namun Tgk Musannif optimis mereka yang tiba di Pasantren tersebut telah bebas dari Covid-19. Pasalnya mereka telah menjalani serangkaian pemeriksaan yang ketat, terutama mereka yang menggunakan transportasi udara.

“Mereka di zona merah ini kebanyakan kalau mau kembali menggunakan pesawat, karena naik bus nggak mungkin, karena di Pos Chek Point pasti dilarang. Begitu mereka naik pesawat ada SOP salah satunya surat Rapid Tes itu. Jadi kalau mereka lewat (sampai ke Aceh) tentu mereka bebas Covid. Jadi memang lebih berat bagi mereka yang ada di luar Aceh,” ujar Tgk Mussanif.

Lebihlanjut Tgk Musannif menambahkan, melanjutkan aktivitas belajar mengajar di Tengah Pandemi Corona merupakan pilihan sulit namun tetap di jalani pengurus di Pasantren tersebut. Sesuai tuntunan Islam, kata dia, mengajarkan ilmu kepada orang lain, merupakan bentuk jihad mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk membentuk dan mencerdaskan generasi yang lebih baik.

“Tentu dalam kondisi yang berat ini, semoga Allah memberi pahalan yang besar kepada guru serta murid meski beresiko,”ujar Tgk Musanif. Pemerintah Aceh akhirnya mengizinkan dayah atau pesantren di Aceh kembali beraktivitas. Izin tertuang dalam Surat Gubernur Aceh Nomor 440/7713/2020, 28 Mei 2020 lalu, perihal kerja sama Puskesmas dan dayah untuk menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran Virus Corona (covid-19). Keputusan ini dilakukan untuk merespon situasi dan kondisi perkembangan covid-19, setelah berakhirnya kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran virus corona di Aceh. (Win)

Editor: Arman

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Pemuda Kajhu Salurkan Bantuan Bagi Pengungsi Rohingya

Wali-News, Aceh Besar – Sejumlah perwakilan pemuda Gampong