Wali-news.com, Makassar – Puluhan pengunjuk rasa mengatasnamakan Aliansi Solidaritas Rakyat Makassar Untuk Tapol Papua menggelar aksi Flashmob didepan kampus Universitas Muslim Indonesia mendapat tindakan represif dan dibubarkan paksa, Senin, 11/11.

Sekitar 15 massa mulai melaksanakan aksi dengan cara berjalan keluar ke titik aksi di depan kampus Universitas Muslim Indonesia, dengan pembentangan spanduk, petaka-petaka, dan pembagian selebaran.
Massa aksi dari Solidaritas Rakyat Makassar Untuk Tapol Papua bertambah dengan datangnya puluhan orang dilokasi dan langsung ikut dalam barisan massa. Aksi ini masih berjalan lancar dan damai.

16.45 Wita massa dari ormas dan preman mendatangi massa aksi solidaritas dan mulai melakukan intimidasi terhadap massa aksi Solidaritas Rakyat Makassar Untuk Tapol Papua.

Massa aksi dari solidaritas sempat mencoba membangun dialog dengan ormas dan preman yang mencoba membubarkan paksa jalannya aksi damai. “Kelompok yang mendukung OPM adalah musuh kami.!,” teriak Zulkifli yang memegangi Toa.

Terlihat asisten Wakil Rektor III juga melakukan intimidasi terhadap massa aksi Solidaritas. “kau mahasiswa UMI, ini atasnama UMI bukan, ini bukan atas nama UMI, silahkan bubar,”Oknum Astor WR III.

Salah satu massa berinisial (PL) dari aksi Solidaritas pun mencoba berdialog dengan pihak dan meminta klarifikasi tegas soal adanya pelarangan aksi didepan kampus UMI. Apakah Rektor melarang aksi didepan kampus UMI? Kalau begitu berarti UMI juga melarang aksi didepan kampus”. “Iya karena kalian aksi bukan atas nama UMI,” jawab oknum Astor WR III.

Zulkifli (Ketua BMI) terus mencoba membubarkan paksa massa aksi. “Apa hak nya bapak untuk bubarkan kami?,” humas aksi solidaritas. Namun dari pihak Zulkifli tak merespon baik hingga terjadi aksi dorong yang dilakukan oleh pihak ormas, preman, dan beberapa oknum yang terindikasi mahasiswa.

16:53 Wita : dari pihak ormas tak lagi menerima dialog, sentuhan fisik pun terjadi antara kedua belah pihak. Terlihat oknum Astor WR III, Ormas BMI, Preman, dan oknum mahasiswa, mencoba membubarkan paksa jalannya aksi dengan mendorong, mencekik, memukul, dan menendangi massa aksi.

Situasi semakin memanas, tindakan represif yang dilakukan oleh ormas, preman, oknum mahasiswa, semakin menjadi-jadi.

16:57 Wita : Untuk menghindari konflik fisik dan jatuhnya korban lagi, massa aksi pun perlahan membubarkan diri dengan bergegas berjalan menuju kedalam kampus UMI.

Menjelaskan mengenai tujuan aksi solidaritas tersebut, Humas aksi berinisial (DT) menegaskan bahwa aksi solidaritas ini sebagai bentuk dukungan dan kecaman terkait proses penangkapan 6 Aktivis Papua yang dilakukan tidak sesuai langkah prosedural penangkapan. “Penangkapan yang tidak sesuai prosedural adalah bentuk tindakan yang menyalahi hukum, dan wujud nyata dari bentuk pembungkaman, serta pelarangan berekspresi yang merenggut hak sipil dan politik yang telah dijamin oleh konstitusi,” jelas DT.

Humas aksi memberikan tanggapannya, “mereka mempermasalahkan persoalan diksi rakyat makassar tidak boleh bersolidaritas dan menggelar aksi di Makassar merespon polemik Rasial Papua dam penangkapan 6 Aktivis yang ditahan karena bersolidaritas atas kasus rasial yang dialami mahasiswa Papua,” DT selaku Humas aksi.
Data Korban Represif Ormas BMI
DT : memar dibagian pelipis mata kiri
IM : merasa sesak nafas akibat dicekik
PL : Sakit dibagian dada akibat didorong hingga terjatuh. (ALO)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

BINDA SULSEL SIAPKAN RIBUAN DOSIS VAKSIN DOSIS 2

BANTAENG – Badan Intelijen Negara (BIN) Sulawesi selatan,