Gempa Palu, Kesaksian Orang Hilan Ditelan Bumi

Gempa Palu, Kesaksian Orang Hilan Ditelan Bumi

0

PALU (Wali-News.com) – Tim gabungan masih terus melakukan pencarian dan evakuasi korban akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018.

Fokus pencarian korban kini tertuju pada dua wilayah yang terdampak cukup parah, yakni Balaroa dan Petobo, di Palu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, hingga saat ini diperkirakan masih ada 5.000 orang yang tertimbun tanah di wilayah Balaroa dan Petobo.

“Jumlah itu menurut informasi yang disampaikan kepala desa. Tapi masih belum terverifikasi,” ujar Sutopo dalam konferensi pers di Gedung BNPB Jakarta, Minggu (7/10/2018) seperti dilansir Kompas.com

Menurut Sutopo, ada 1.445 unit rumah di Balaroa.

Sementara, jumlah rumah yang rusak di Petobo diperkirakan ada 2.050 unit.

Luas wilayah Petobo 180 hektare.

Menurut Sutopo, sebagian besar wilayah Balaroa dan Petobo tertimbun lumpur.

Kondisi bangunan di permukaan telah rata dengan tanah.

Menurut Sutopo, Balaroa dan Petobo adalah dua wilayah yang terdampak Likuefaksi, di mana kondisi tanah berubah menjadi lumpur.

Proses pencarian terus dilakukan dengan bantuan 7 unit alat berat dan eskavator.

“Upaya terus dilakukan. Ditargertkan 11 Oktober sudah selesai. Kalau tidak ditemukan, nanti akan dibahas bersama. Apalagi tanggal 11 itu sudah dua pekan, sehingga sudah dinyatakan hilang,” kata Sutopo.

Hilang Ditelan Bumi

Lumpur yang keluar dari perut bumi telah menguburkan sebagian wilayah Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Anak dan neneknya belum ditemukan. Amir (35) hanya bisa memandang bukit lumpur yang tiba-tiba muncul ini.

“Sore itu saya lihat jalan aspal tiba-tiba menekuk-nekuk ke atas seperti gelombang laut disertai gempa yang mengguruh,” kata Amir, Senin (1/10/2018).

Jalan aspal, lanjut dia, mulai terlihat berlipat dari arah pesantren, perlahan-lahan mendekat ke arah rumahnya.

“Gemuruh dan guncangannya seperti dunia ini mau kiamat,” lanjut dia.

Amir yang baru pulang kerja dan hanya menggunakan lilitan handuk lalu menerjang rekahan tanah untuk mencari anak pertamanya.

Mertua dan anaknya sedang membeli lauk untuk makan malam. “Saya meloncat-loncat dari gundukan aspal yang terangkat untuk mencari mereka,” tutur Amir.

Tidak lama kemudian, dari rekahan aspal ini muncul lumpur dari dalam perut bumi. Perlahan-lahan rumah-rumah di Petobo ambruk dan tenggelam oleh lumpur dari perut bumi.

“Saya lihat seorang ibu menggendong anaknya tenggelam di dalam rekahan. Kami berusaha menolongnya dengan menggali lumpur,” kata Amir matanya berkaca-kaca.

Wanita ini hanya menyisakan kepala, sementara tubuhnya sudah ditelan bumi. Amir menarik kepalanya dan berhasil. Sayangnya anak yang digendongnya tenggelam dalam lumpur. Hanya itu yang dia ingat.

Setelah itu, dia berusaha menyelamatkan diri ke tempat yang aman. Lumpur yang keluar dari perut bumi ini seakan mendapat tekanan yang lebih kuat dari dalam.

Muntahannya membentuk bukit dan menenggelamkan sebagian wilayah Petobo. Tidak ada data yang jelas berapa banyak korban yang tenggelam oleh kemunculan lumpur ini.

“Mungkin ada ratusan rumah, Petobo adalah kawasan yang padat penduduk,” ujar Amir.

Terik matahari tak dihiraukan, dia terus mencari-cari anak dan mertuanya hingga di puncak bukit lumpur ini.

Amir tidak sendirian menjadi korban gempa bumi dahsyat ini. Ia bersyukur masih bisa menyelamatkan istri dan anak keduanya.

Saat ini, keduanya ditempatkan di pengungsian bersama warga yang selamat lainnya.

Dahsyatnya gempa yang memunculkan lumpur ini diceritakan oleh Mahmud.

Dia menunjuk sebuah rumah yang tinggal kerangka bajanya.

Rumah itu awalnya di dekat sekolah, namun kekuatan lumpur ini telah menyeretnya hingga ratusan meter. Semua yang dilalui lumpur ini ambruk dan terkubur.

“Saya tidak tahu ada berapa orang yang terkubur lumpur ini. Rumah saja bisa mencapai ratusan,” kata Amir.

Munculnya bukit lumpur ini menjadi tanda besar bagi warga yang Palu.

Bagaimana mungkin perkampungan warga yang harmonis tiba-tiba terkubur lumpur yang keluar dari perut bumi.

Sementara itu, Syamsuddin (51) yang juga warga Petobo, kaget setengah mati saat dia pulang kerja di Perumahan Dosen Tadulako menjumpai kampungnya tidak lagi memiliki jalan.

“Saya bingung mau pulang karena jalan yang ada sudah menjadi gunung,” kata Syamsuddin.

Dia tidak tahu kabar keluarganya. Dia pasrah. Syamsuddin menunjukkan papan kayu yang berantakan diobrak-abrik lumpur sebagai patokan rumahnya yang terkubur lumpur.

“Saya sedih, saya hanya bisa berdoa untuk kebaikan semuanya,” ujar Syamsuddin.

Petaka Petobo adalah duka semuanya. Semua yang ada di sini telah musnah ditelan lumpur. Tinggal harapan baru yang akan memulai kehidupan kemudian.

Mereka sadar, keluarga yang tersisa adalah masa depan. Termasuk untuk memahami fenomena ini, lumpur yang menyembur dari dalam perut bumi. ()

Sumber : Kompas.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Nekat Melintasi Perbatasan Untuk Mudik, 22 Orang Diswab Antigen, 1 Reaktif

Wali-news.com, Aceh Tamiang – Petugas gabungan yang terdiri