Indonesia dan Segala Identitasnya

Indonesia dan Segala Identitasnya

0

Penulis : Gratia Wing Artha*

Pernah terfikirkan bahwa Indonesia yang katanya negara kaya pada kenyataannya adalah negara yang sangat berdarah. Bahkan, di negara yang katanya menjunjung tinggi multikulturalisme ini seringkali tertimpa konflik berdarah. Kondisi ini dapat dikatakan sangat menyedihkan terlebih Indonesia yang masih tergolong negara berkembang harus menyesuaikan dengan segala keadaan yang serba terjepit. Kondisi yang serba terjepit ini. 

Dari sini kita perlu berfikir ulang apakah kita dapat tetap optimis dengan kondisi Indonesia atau kita harus pesimis. Segala macam pembangunan yang diterapkan selalu saja hanya menyasar mereka – mereka yang telah mapan secara kekuasaan dan materi. Sedangkan mereka yang lemah dalam parameter kekuasaan dan materi akan tersingkir dari pembangunan.

Dalam hal ini saya mencoba untuk merombak kembali makna pembangunan di Indonesia yang menguntungkan deintitas sosial tertentu. Melalui serangkaian pemikiran kritis masyarakat dapat melihat ketidakadilan yang selama ini menghiasi kehidupan sosialnya. Mungkin, masyarakat telah terpenjara dalam labirin ketidakberdayaan yang mana ini ditekan oleh kekuasaan dan uang.

Kondisi sosial yang seperti ini menyebabkan kita yang hidup di Indonesia menjadi terbelenggu kebebasan dan hak – hak yang seharusnya kita dapatkan dalam pembangunan. Dimana pada kenyataannya kita merasakan keresahan dalam ketidakberdayaan yang ada di masyarakat.

Terlebih bagi kita yang telah belajar ilmu sosial yang mana kita melihat keadaan yang ada sekarang ini sebagai penipuan dalam sisten demokrasi damn pembangunan. Saya lebih pas menyebutnya pembangunan dengan identitas elit karena selama ini masyarakat kecil selalu tersisihkan dari pembangunan sosial yang ada.

Bila dilihat secara lebih kritis kondisi ini dapat dikatakan sebagai akibat dari kekuasaan yang memang hanya menguntungkan golongan personal. Bahkan, kekuasaan itu sangat berani merambah pada bidang pendidikan yang menjadi tonggak moral pembangunan. Perguruan tinggi yang diharapkan menjadi tonggak moral pembangunan di Indonesia dijadikan sapi perah untuk mendapatkan uang. Kondisi ini sangat miris terlebih Indonesia sering dikatakan sebagai negara yang “beragama”.

Pada kenyataannya agama hanya dijadikan alat kekuasaan guna mempertahankan legitimasi kuasa. Para agamawan telah menjadi politisi yang menjual kata – kata yang termaktub dalam kitab suci.

Dari sini saya melihat pembangunan di Indonesia adalah pembangunan yang penuh dengan kemunafikan. Dimana kemunafikan yang ada menjadikan masyarakat tumpul daya kirtisnya dan para elit semakin berani untuk  sewenang – wenang.

Bila dicermati secara lebih kritis kondisi ini mencerminkan sebuah wacana ketidakberdayaan dalam pembangunan dan ketidakberdayaan itu menjadikan pembangunan kita ( Indonesia) menjadi pembangunan beridentitas elit. Sampai kapan kondosi seperti ini akan bertahan. Semoga saja badai kutukan ini lekas berlalu.

*Penulis merupakan Alumnus Sosiologi FISIP UNAIR dan Pemerhati Masalah Sosial

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Partai Gelora Bangka Belitung Soroti Aksesibilitas Ibu Kota Negara Baru

Pangkalpinang, Wali-News.com – Pengesahan RUU Ibu Kota Negara