Jembatan Roboh Diduga Terjangan Air Pembuangan PT Fajar Baizuri and Brother, Sawit Warga Cot Mee Tak Bisa Panen

Jembatan Roboh Diduga Terjangan Air Pembuangan PT Fajar Baizuri and Brother, Sawit Warga Cot Mee Tak Bisa Panen

0

wali-news.com, Nagan Raya – Seluas 300 hektare (Ha) kebun sawit milik warga Desa Cot Mee, Kecamatan Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya tidak bisa dipanenkan lantaran akses jembatan yang biasanya digunakan mereka Roboh dihantam banjir.

Dari pengakuan warga setempat, kerusakan jembatan yang terbuat dari kayu besar tersebut, diduga bukan karena faktor usia jembatan ataupun pengaruh bencana alam, tetapi diduga akibat pembuangan air pembersih kebun milik perusahaan kelapa sawit, PT Fajar Baizuri dan Brothers.

“Kami menduga, kerusakan jembatan kami ini akibat tambahan air kebun milik perusahaaan Fajar Baizuri dan Brothers. Karena tidak mungkin sehari hujan parit daerah kami ini meluap dan sempat merendam perkebunan hingga merusakkan akses kami,”kata warga Desa Cot Mee, Siswandi kepada wartawan, Rabu (24/4/19) sore.

Ia menjelaskan, kejadian seperti itu baru pertama kali terjadi di desa mereka, apalagi bersamaan dengan aktifitas perusahaan melakukan pembersihan kebunnya kemudian pembuangan airnya seperti biasa dialirkan ke parit kawasan kebun warga tersebut, namun luapannya berbeda dari sebelumnya atau lebih besar debit airnya.

“Akibat jebolnya jembatan, kini kami tidak bisa memanen hasil kebun kami, padahal sudah masuk hari panen, kami takut perekonomian warga macet. Bisa jadi kami menelan kerugian jika tidak langsung memetiknya karena akan membusuk buahnya jika masih dibiarkan,”tambahnya.

Diperparah, akses jembatan rusak itu menjadi jalur utama lintasan pekebun pada setiap harinya, baik hal perawatan hingga mengeluarkan hasil panen. Namun, akibat kejadian tersebut warga harus berpuasa memanen lantaran hal tersebut sehingga menjadi kekhawatiran mereka dalam mengoptimalkan perekonomian pekebun itu.

Akses jembatan tersebut dibuat warga sebagai jalur mengeluarkan hasil bumi mereka itu, baik menggunakan kendaraan roda empat maupun tiga. Namun, semenjak terjadi kerusakan setingkat roda dua saja tidak bisa lagi melewatinya. Sehingga dampaknya terjadi terhadap perekonomian warga sekitar desa itu.

Mengenai hal tersebut, warga meminta pihak perusahaan agar beriniatif membangun jembatan permanen pada lokasi tersebut. Karena tidak mungkin warga mengeluarkan hasil panennya dengan membahunya atau secara manual lainnya.

“Kalau kita perbaiki ulang pada jembatan yang sama, tidak akan menjamin bertahan apalagi jika terjadi hujan disertai pembuangan air cucian kebun milik perusahaan yang debitnya tinggi. Makanya kami minta dibangun jembatan permanen dari perusahaan agar lalulalang pekebun berjalan dengan lancar,”tandasnya. (Red).

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Disdik Aceh dan Kemendikbud Ristek Gelar Bimtek E-Pembelajaran Berbasis TV dan Suara Edukasi

Wali-news.com, Banda Aceh – Pada saat ini teknologi