Jurnalis Diancam, JANTAN Demo di Depan Mapolda Aceh

Jurnalis Diancam, JANTAN Demo di Depan Mapolda Aceh

0

wali-news.com, Banda Aceh – Aliansi jurnalis dari lintas organisasi pers di Aceh yang menamakan dirinya Jurnalis Anti-Kekerasan (JANTAN) menggelar aksi damai di depan Mapolda Aceh di Banda Aceh, Kamis, 9 Januari 2020.

Aksi tersebut terkait peristiwa pengancaman yang dialami Aidil Firmansyah, wartawan tabloid Modus Aceh dan modusaceh.co di Aceh Barat, Minggu 5 Januari 2020 dini hari. Aidil diancam bunuh oleh Akrim, Direktur PT Tuah Akfi Utama, karena berita terkait perusahaan itu yang tayang di modusaceh.co beberapa jam sebelum pengancaman.

Peristiwa ini sedang ditangani penyidik Polres Aceh Barat setelah korban melaporkan kejadian yang dialaminya. Polisi juga sudah menahan pelaku setelah pelaporan tersebut hingga sekarang.

Ironi, atas pengancaman yang turut memperlihatkan mirip senjata api jenis pistol ini, penyidik hanya menjerat pelaku dengan Pasal 335 KUHPidana tentang perbuatan tidak menyenangkan. Sedangkan senjata yang digunakan dan diakui asli oleh pelaku pada beberapa pemberitaan media, terakhir berubah wujud menjadi korek api atau macis berbentuk pistol.

Atas peristiwa ini, selain pelaku tidak terjerat dengan penyalahgunaan senjata api, tetapi juga tidak dijerat dengan Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Padahal, sangat jelas pengancaman itu terjadi karena pemberitaan yang tayang di media modusaceh.co.

Dalam menjalankan profesinya, jurnalis dilindungi UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers yang berlaku khusus. Dalam UU Pers, mengancam bunuh jurnalis adalah tindakan membungkam kemerdekaan pers sebagaimana diatur pada Pasal 4 dan bagian dari upaya menghalang-halangi tugas jurnalistik seperti diatur pada Pasal 18 ayat (1).

Oleh karena itu, berhubung pengancaman ini jelas-jelas karena berita yang ditulis oleh jurnalis yang dilindungi oleh UU Pers, JANTAN menilai pelakunya wajib dijerat dengan UU Pers yang berlaku khusus di-jouncto-kan dengan KUHPidana.

Selain itu, karena UU khusus dapat mengenyampingkan UU umum (KUHP), maka penanganan perkara ini harus dilakukan oleh bidang pidana khusus (pidsus), bukan pidana umum (pidum).

Dalam aksinya, JANTAN yang terdiri lintas organisasi pers di Aceh: Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengda Aceh, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Aceh, meminta kepada Kapolda Aceh untuk mengawal penanganan kasus pengancaman Aidil Firmansyah, jurnalis Modus Aceh ini, agar pelakunya dijerat dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, mengingat pengancaman itu berkaitan dengan pemberitaan.

Mereka juga meminta Kapolda Aceh untuk memerintahkan penyidik Polres Aceh Barat agar segera mengalihkan penanganan kasus ini, dari pidana umum ke bidang pidana khusus, sesuai UU Pers yang berlaku khusus, serta mengambil alih penangan kasus apabila penyidik Polres Aceh Barat tidak turut menjerat pelaku dengan ancaman sebagaimana diatur dalam UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers

JANTAN juga meminta kejaksaan untuk tidak menerima berkas perkara ini dari kepolisian apabila penyidik tidak menjerat pelaku dengan ancaman hukuman sesuai yang diatur dalam UU Pers, serta meminta semua pihak untuk menghormati kerja-kerja jurnalis dan menjalankan sebagaimana diatur dalam UU Pers apabila merasa dirugikan atas sebuah pemberitaan media massa.

Pernyataan sikap itu ditandatangani Ketua IJTI Pengda Aceh Munir Noer, Ketua AJI Banda Aceh Misdarul Ihsan, Wakil Ketua PWI Aceh Iranda Novandi, Ketua PFI Aceh Bedu Saini, dan Ketua FJPI Aceh Saniah LS. (Red)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Rumah Yatim Terima Bantuan Dari Satbrimob Polda Aceh dan Bhayangkari

Banda Aceh – Personil Satbrimob Polda Aceh dan Pengurus