Kakanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Aceh, Harap Sabang sebagai Food Estate Indonesia

Kakanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Aceh, Harap Sabang sebagai Food Estate Indonesia

0

Wali-news, Banda Aceh- Sabang Go Global, ungkapan yang harusnya bergaung kencang sejak tahun 2000 sampai 2020 tahun ini. Namun hasrat tersebut belum terwujud hingga sekarang. Jika saja semua “Orang Aceh” berkenan berubah dan mengubah arah berfikir tentang Sabang, maka Sabang akan menjadi “prime mover” untuk kemajuan Aceh bahkan Indonesia, Demikian Ucap , Safuadi, ST., M.Sc., Ph.D. – Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jendral Bea dan Cukai Aceh, Senin (26/10/2020).

Menurutnya, karena Aceh punya “keunikan” tersendiri, Aceh itu Uniqueness is a Power ( Keunikan adalah Kekuatan), keunikan yang tidak dimiliki Provinsi2 lain di Indonesia.

Jadi, Seharusnya kita di Aceh tidak lagi “inward looking” dengan melihat pasar kecil sebesar 5,2 juta penduduk Aceh saja, tapi outward looking melihat Dunia Internasional bahwa sebelah barat Provinsi Aceh ada 10 negara terdekat (India hingga Mesir) dengan total lebih dari 2,4 milyar penduduk dunia yang membutuhkan kehadiran Sabang/Aceh.

Kita di Aceh harusnya mampu menjadi “fasilitator” bagi 2,4 milyar penduduk 10 negara tersebut sebagaimana halnya dulu Singapore di tahun 70-an melihat peluang bisnis Internasional dengan cara “menginisiasi diri” sebagai negara yang memfasilitasi “Financial and Services Hub”, saran Safuadi.

Di tambahkan, Dengan kondisi perubahan global saat ini maka masa kejayaan Singapore sudah akan berakhir dengan kemajuan IT dan On line Trading, serta hampir seluruh negara saat ini sudah bisa menjadi “Logistic Centre”, peluang yang dulu dimanfaatkan sangat sempurna oleh Singapore yang mengantar Singapore menjadi negara Maju dan Kaya. Singapore menjadi “Hub” bagi perpindahan “barang dan uang” mengandalkan pelabuhan laut canggih dan bandara mewah.

Namun kondisi ini telah berubah, sejak terbangunnya jalur kereta api lintas benua, jalur transportasi barang menggunakan media kereta api dari China ke London sejauh 12 ribu KM yang telah mengubah bentuk dan cara pemindahan container dimana penggunaan jalur kereta api yang waktunya lebih cepat dibandingkan kapal laut dan lebih murah dibandingkan pesawat, Sambung Kakanwil.

Memandang fenomena dan perubahan global ini. Maka Sabang sedang berada di pintu gerbang kemajuan dengan sebuah catatan penting dab harus Memfaatkan Peluang ini sebaik mungkin.

Inilah saatnya Sabang tumbuh dengan tantangan Baru ini, Dengan memanfaatkan peluang yang ada ini, apalagi kita ketahui ada 3 hal ke depannya tidak akan hilang dan akan terus dibutuhkan manusia yaitu ”Foods”, “Energy” and “Water” (FEW).

Dari itu setidaknya Aceh atau Sabang bisa mengambil di 2 item Foods and Water bagi kebutuhan 2,4 milyar manusia di sebelah barat Provinsi Aceh, Jelas Safuadi.

Mangambil kesempatan sebagai “Food Estate” adalah peluang sempurna sebagaimana dulu Singapore mengambil kesempatan dan peluang sebagai negara maju.

Food Estate adalah sesuatu yang sudah menjadi wacana Nasional, dan istimewanya Sabang (Aceh) memiliki keunggulan yang tidak dimiliki provinsi lain, harusnya kita bergerak sesuai Keunggulan yang memang dimiliki Aceh.

Jika kita ikut perkembangan saat ini bahwa orang terkaya di China adalah pengusaha air mineral. Sesuatu yang sebelumnya tidak terfikirkan oleh kita.

Kembali di tambahkan, Hal itu akan sangat menguntungkan Aceh karena Negara yang ada di Timur Tengah dan Afrika adalah negara yang kurang subur dan kurang curah hujannya.

Mari kita bayangkan dan mimpikan, Aceh punya industri air mineral utk ekspor utk 2,4 milyar manusia untuk 10 negara di sebelah barat provinsi Aceh, kita yakin apabila pemerintah Aceh mengambil peluang ini, Aceh akan menjadi Singaporanya Indonesia, Tutup Safuadi berharap.(CMA)

Editor : Chairan Manggeng

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

DPW PNA Kota Banda Aceh Sambut Milad Dengan Doa Bersama

Wali-news, Banda Aceh- Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai