Kinipan, Film Dokumenter Tentang Masyarakat Adat Dalam Pusaran Konsep Yang Konservasi

Kinipan, Film Dokumenter Tentang Masyarakat Adat Dalam Pusaran Konsep Yang Konservasi

0

wali-news.com, Opini – Sebuah film dokumenter besutan Dandhy Dwi Laksono tentang masyarakat adat dalam pusaran konsep tentang konservasi. Konservasi yang terdengar masghul bagi masyarakat sekitar hutan itu digagas oleh pemerintah maupun lembaga faunding internasional.

Dalam film berdurasi 2,5 jam itu berhasil menampilkan bagimana hubungan konsep trading carbon atau jual beli karbon dengan negara industri, hanya manis di konsep namun tidak di realita.

Dandhy juga mengungkap relasi antara warga dengan hutan konservasi di Sumatera dan Kalimantan. Tak hanya itu, bahkan munculnya patogen dari organisme yang hidup di tubuh hewan juga akibat dari kerusakan lingkungan hidup.

Hutan yang menopang keragaman hayati sekaligus sebagai entitas keseimbangan alam dapat porak poranda akibat budaya hidup modern yang konsumtif dan mengabdi kapital dan pertumbuhan modal.

Hutan yang rusak merubah pola hidup hewan tertentu, misalnya kemunculan virus baru akibat konsumsi daging onta, hewan liar, sapi serta unggas yang ternyata menjadi inang dari patogen virus tertentu.

Film bergenre dokumenter itu menjadi karya ke sekian setelah perjalanan keliling Indonesia yang dilakoninya sejak beberapa tahun lalu.

Salah satu adegan yang menarik dan gampang diingat penonton adalah ketika sekelompok serdadu dikerahkan untuk mencetak tanah gambut menjadi hamparan sawat dalam program food estate di Kalimantan.

Betapa kesusahan tentara yang tentu saja tidak terlatih untuk mencetak sawah, apalagi itu skala besar. Mesin bajak dan traktor pun kerap mogok dan tetap membutuhkan bantuan petani yang puluhan tahun lalu telah membuka lahan gambut untuk pertanian warga secara mandiri.

Selain itu, terdapat juga adegan di kebun pangan yang dikelola oleh warga Yogyakarta secara berdaya untuk memenuhi kebutuhan gizi rakyat di kabupaten Bantul dan sekitarnya.

Ini paradoks sekaligus unik, satu sisi negara menggadang konsep muluk soal real estate jutaan hektare sawah tapi belum mampu memberikan pangan kepada rakyat.

Sementara di sisi lain, ada warga mandiri yang menginisiasi pengolahan kebun urban di Jogja yang sudah rutin memberikan manfaat dalam bentuk pembagian pangan gratis kepada warga setempat.

Pertanyaannya bagaimana peran warga kota terhadap usaha pelestarian lingkungan hidup? barangkali penonton akan menjawab setelah selesai menyaksikan film tersebut. Oh iya, hampir lupa, selamat hari pendidikan nasional.

Penulis : Rifat Arif

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Mengapresiasi Persiapan Penyelenggaraan PON XX Papua

Wali-news.com. Pekan Olah Raga Nasional (PON) XX Papua