Konsep Mitigasi Rumah Sakit Terhadap Keselamatan Pasien Dimasa Pandemi Covid-19

Konsep Mitigasi Rumah Sakit Terhadap Keselamatan Pasien Dimasa Pandemi Covid-19

0

Oleh : Amir Hidayat.ST*

 

            Masa pandemi Covid-19 saat ini merupakan tantangan bagi rumah sakit untuk kembali melakuka prosedur kebencanaan sebagai fasilitas pelayanan kesehatan utama dalam menangani pasien covid-19. Rumah sakit perlu memperkuat dan meningkatkan sistem manajerial pelayanan klinik dengan menyiapkan fasilitas dan peralatan yang sesuai standar. (Bartsch et al., 2020; Patria Jati et al., 2020)

              Masa covid-19 akan sangat mempengaruhi kualitas dan keamanan pelayanan di rumah sakit. Parameter dan ukuran pengaruh tersebut dapat dikaji menggunakan dimensi kualitas berdasarkan apa yang dilakukan oleh Institute of Medicine (IOM) yaitu pelayanan kesehatan yang diberikan dengan prinsip harus aman, efektif, berfokus pada pasien, tepat waktu, efisien, dan adil.

Kondisi pandemi saat ini, sangat mempengaruhi kualitas pelayanan dan Rumah Sakit dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dengan memperkuat Sumber Daya Manusianya (SDM), kelengkapan alat pelindung diri guna melindungi tidak hanya pekerja, namun juga pasien yang mendapat pelayanan, kualitas pelayanan harus terus meningkat.  

              Contoh kecil satu sisi pelayanan yang menjadi sorotan masyarakat pada awal pandemi adalah keterlambatan diagnosis kasus covid-19 dan kami yakin untuk saat ini khususnya didaerah terpencil kasus seperti ini masih terjadi. Hal tersebut potensi terjadi karena dokter butuh waktu berhari-hari untuk mendapatkan hasil tes swab (PCR) yang sampai saat ini masih dijasikan sebagai gold standar diagnostik covid-19. Inilah yang menyebabkan pasien tidak langsung mendapatkan perawatan sesuai standar penanganan baik itu kasus yang berkaitan dengan covid-19 itu sendiri maupun untuk kasus lainya.  Keterlambatan tersebut berdampak kepada lambatnya penanganan yang dapat berakibat fatal bahkan bisa sampai menyebabkan pasien meninggal dunia bahkan sebelum terkonfirmasi positif terinfeksi covid-19.

              Untuk meningkatkan kewaspadaan dan meningkatkan pelayanan dibutuhkan upaya ektra oleh manajemen RS, khususnya bisang pengendalian infeksi RS. Salah satu upaya yang bisa dioptimalkan oleh unit pengendalian infeksi RS adalah dengan memperkuat prinsip pelaksanaan protokol pengendalian infeksi khususnya covid-dengan ketat, teliti dan sistematis. Konsep ini dapat dimulai dari pemisahan unit pelayanan umum dengan unit pelayanan khusus covid-19 dengan membuat zonasi area pelayanan.

Pola pelayanan juga harus memperhatikan area-area pelayanan khususnya pada bagian alur masuk pasien ke rumah sakit, ketika pasien berada di ruang tunggu, pengelompokan pasien berdasar kondisinya, saat  membawa pasien ke unit pelayanan lain di rumah sakit, perawatan di ruang isolasi ataupun di ruang perawatan intensif, pengelolaan linen, bahkan sampai pengelolaan limbah. Keamanan pelayanan akan sangat dipengaruhi oleh kepatuhan petugas kesehatan dan pasien terhadap prosedur, ketersediaan alat pelindung diri (APD) sesuai standar, pelatihan yang kuat dan berkesinambungan juga meningkatkan kepedulian serta pemahaman petugas kesehatan terhadap protokol penanganan covid-19.

              Efektivitas pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana prasarana yang juga terstandarisasi. Ketepatan penanganan dan pengobatan yang untuk kasus covid-19 berlomba dengan waktu. Dalam kasus berat, data Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid-19 menunjukkan ventilator hanya dimiliki oleh 60% rumah sakit di Indonesia. Di setiap rumah sakit Jumlah rata-rata ventilator hanya berkisar 3-4 unit yang jumlah ini dapat dikatagorikan sangat kurang untuk bisa memenuhi lonjakan pasien. Selain itu, kekurangan tempat tidur di rumah sakit menyebabkan pasien non-covid diusahakan untuk pulang lebih cepat, sehingga meningkatnya jumlah pasien yang keluar rumah sakit lebih dini juga dapat membahayakan keselamatan pasien. Selain itu, potensi penyebaran covid-19 menjadi lebih luas karena tercampurnya pasien covid-19 dan non-covid dalam satu rumah sakit karena rumah sakit rujukan juga tetap memberikan pelayanan kepada pasien biasa.

              Belum tersedianya pelayanan kesehatan berbasis Informasi Teknoloi atau yang dikenal dengan pelayanan berbasis telemedicine juga menjadi kendala di Indonesia khususnya di Aceh. Masih sangat minim fasilitas kesehatan, bahkan RS yang memanfaatkan IT sebagai penunjang pelayanan kesehatan. Padahal seperti kita ketahui konsep ini juga dipercaya dapat menurunkan angka kontak dengan demikian dapat menurunkan resiko infeksi yang semakin luas. Rumah Sakit tentu harus terus berbenah seiring dengan meningkatnya kemanuan teknologi informasi.

              Dari serangkaian persoalan yang dihadapi, dengan minimnya peralatan sarana prasarana dan pemanfaatan teknologi informasi (IT) RS, maka perlu dicarikan solusinya. Masalah tersebut mungkin bisa hindari apabila setiap daerah memiliki rumah sakit yang khusus untuk rujukan pasien covid-19 dan disiapkan hanya melayani pasien covid-19. Rumah sakit tersebut dapat ditentukan dengan dasar berbasis wilayah sehingga tidak semua rumah sakit di kabupaten/kota menjadi rumah sakit rujukan. Dengan strategi ini pemerintah pusat dan daerah, dapat menambah jumlah tempat tidur atau ruang perawatan secara signifikan dalam waktu singkat. Selain itu juga dapat fokus terhadap penambahan tenaga kesehatan, sarana prasarana, mempersiapkan tenaga kesehatan dengan pelatihan yang tepat, menyediakan alat pelindung diri yang lengkap dan terstandar, serta memenuhi kebutuhan sarana prasarana penunjang lainnya.

              Upaya ini juga tentunya butuh dukungan dari pemerintah dan lembaga non pemerintah. Prinsip gotong-royong dan kolaborasi sangat dibutuhkan dalam kondisi krisis kesehatan. Dengan dukungan anggaran agar tersedia unit pelayanan kesehatan khususnya Rumah Sakit yang diperuntukan bagi penanganan covid-19. Dana refocusing dari belanja daerah dapat dimanfaatkan guna tersedianya fasilitas ini. Tentu masyarakat akan sangat merasa terbantu. Dengan demikian pengendalian infeksi di tingkat rumah sakit dan pemberian pelayanan yang efektif akan lebih terkontrol pada akhirnya akan meningkatkan keselamatan pasien dan tenaga kesehatan.

Kami percaya tentu pemerintah juga terus mengupayakan untuk dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakat untuk mencapai Kesehatan Masyarakat yang baik. Kesehatan merupakan salah satu parameter kemakmuran suatu daerah. Dengan semakin baiknya taraf kesehatan masyarakat, maka semakin baik juga daerah tersebut. Maka melalui tulisan ini kami akan terus mendukung pemerintah dalam mewujudkan kesehatan masyarakat yang baik.

*Penulis adalah : Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran USK, Banda Aceh. Email : amirhidayathidayat@gmail.com

============

Redaksi menerima sumbangan tulisan berupa Opini dan Jurnalisme Warga.

Redaksi berhak mengubah atau menyesuaikan isi tulisan tanpa menghilangkan maksud dan tujuan. Segala bentuk gagasan dan ide didalam tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis



 

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Ikatan Alumni Abulyatama Peringati Maulid Nabi dengan Santuni Anak Yatim

Wali-News.com, Aceh Besar– Ikatan Alumni Abulyatama Aceh (IAA)