Menakar Budaya “Banyak Anak Banyak Rezeki” di Tengah Resesi Seks

Menakar Budaya “Banyak Anak Banyak Rezeki” di Tengah Resesi Seks

0
Ilustrasi Keluarga

Penulis : Elfana Primastya*

Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia setelah negara Amerika yang memiliki penduduk yang hampir menyentuh 336 juta jiwa, penduduk Indonesia yang mencapai 271 juta jiwa mengalami penurunan pertumbuhan penduduk yaitu sebesar 1,25% pada 2010-2020 yang sebelumnya mencapai 1,49% pada tahun 2000-2010 (BPS.go.id). Data ini sebetulnya merupakan sebuah trend penurunan pertumbuhan penduduk yang menjadi tingkat keberhasilan program Keluarga Berencana, naiknya tingkat gaya hidup, kebutuhan hidup masyarakat dan IPTEK juga mempengaruhinya.

Dalam beberapa negara yang saat ini mengalami resesi seks atau penurunan tingkat kelahiran dan fertilitas adalah Jepang, Suriah, dan yang akhir akhir ini adalah Tiongkok yang sebelumnya memang terjadi ledakan penduduk justru sekarang mengalami penurunan. Resesi sex memang dipicu berbagai problematika antara lain secara biologis, sosial, budaya, dan kebijakan pemerintah yang tidak pro fertilitas.

Apabila dilihat secara biologis, lingkungan yang rentan misalnya radiasi juga sangat mempengaruhi hormon dalam seorang individu dan menghambat kelahiran maupun fertilisasi. Untuk faktor yang paling menguasai individu adalah faktor sosial dimana gaya hidup dan kebutuhan yang kian sulit, pemenuhan dorongan seksual melalui hubungan yang bersifat sementara, pendidikan, pekerjaan yang membuat individu terus terpacu untuk meraih yang lebih tinggi dan faktor sosial lainnya juga berdampak besar terhadap pertumbuhan penduduk, secara budaya yang ada juga kadang menghambat namun banyak juga yang mendorong fertilitas dalam masyarakat, dan yang terakhir adalah kebijakan pemerintah yang sebetulnya adalah sebuah kunci bagaimana pertumbuhan penduduk diatur.

Sudah menjadi rahasia umum di Indonesia bahwa ” Banyak Anak Banyak Rezeki” yang merupakan sebuah budaya yang mungkin lebih melekat pada masyarakat mayoritas Islam. Dari sinilah pembahasan artikel ini akan dimulai, yaitu dimana budaya ” Banyak Anak Banyak Rezeki” sebetulnya masih dapat diterima dengan cukup baik dalam pendekatan sosiologis kependudukan melalui teori dari William H McNeill yaitu pandangan optimisme yang melihat bahwa dalam masyarakat, sebuah pertumbuhan penduduk alami sebetulnya akan diimbangi dengan peningkatan pengelolaan alam melalui akal pikiran, bahasa, dan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang ada, meskipun pada kenyataannya faktor distribusi potensi sumber daya alam masih belum merata.

Budaya “Banyak Anak Banyak Rezeki” sebetulnya bersebrangan dengan kebijakan pemerintah dalam menghambat laju pertumbuhan penduduk namun pada kenyataannya masyarakat yang masih memegang tradisi untuk memiliki banyak anak juga berkembang dikalangan beberapa aliran Islam dan masyarakat yang masih tradisional, meskipun sudah terjadi modernisasi yang menuntut akan kualitas penduduk bukan hanya kuantitas.

Kebijakan pemerintah yang ada sebetulnya sudah mampu menghambat laju pertumbuhan penduduk namun budaya “Banyak Anak Banyak Rezeki” di beberapa kalangan masih kuat sehingga masyarakat setidaknya akan ikut menstabilkan pertumbuhan penduduk yang ada dan negara tidak terlalu khawatir akan terjadi resesi seks yang kini sedang melanda Tiongkok dan mungkin saja juga akan merugikan negara secara ekonomi apabila tidak segera ditangani seperti yang telah terjadi di Jepang. Namun untuk menangani permasalahan itu negara sebesar Tiongkok pun perlu mengeluarkan banyak uangnya demi membiayai masyarakat agar tertarik memiliki anak lebih dari satu.

Kebijakan negara Tiongkok yang dapat kita lihat mengenai banyak anak ini adalah ketika negara hadir dalam menghidupi dan memenuhi kebutuhan dengan cukup menyeluruh karena diharapkan bantuan yang diberikan akan menjadi timbal balik ke perekonomian negara dimasa mendatang dengan menjadi penopang usia tidak produktif.

Negara mempersiapkan hal tersebut karena banyak anak akan menghasilkan banyak rezeki jika dididik dan diberikan bimbingan yang tepat serta kebijakan yang pro rakyat. Sementara diera yang kini sebagian besar negara mengalami penurunan jumlah penduduk dan ekonomi akibat pandemi Tiongkok justru berlomba menangani permasalahan kependudukan jangka panjang yang sebetulnya selaras dengan prinsip sebagian masyarakat Indonesia yang mungkin kini sudah cukup luntur.

Adanya budaya masyarakat untuk memiliki banyak anak kini seharusnya dipertimbangkan ulang meskipun kini Indonesia sebagai negara yang berada pada fase perpindahan antara pra modern menuju modern mempengaruhi masyarakat yang kadang masih memegang budaya “Banyak Anak Banyak Rezeki” ini, sebab kesadaran akan tuntutan lingkungan sosial dan alam mulai menghantui ditambah lagi jaminan dari negara mungkin perlu untuk dipertanyakan arah tujuan dari sebuah bangsa yang merdeka untuk rakyat kedepannya.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Sosiologi di UTM

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Resmi Dilantik, Pengurus dan Paralegal LBH KUBI Berkomitmen Tingkatkan Layanan Bantuan Hukum Kepada Masyarakat Miskin

Pangkalpinang, Wali-News.com – Lembaga Bantuan Hukum Keadilan Untuk