Menakar Peluang dan Ancaman NU Masa Depan

Menakar Peluang dan Ancaman NU Masa Depan

0

wali-news.com, Tanggamus – MUKTAMAR ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung kemarin. Ramai spanduk bertuliskan “NU Masa Depan, Masa Depan NU”. Spanduk ini menyimpan harapan besar bagi kalangan Nahdliyyin dalam menyiapkan dan menyambut nakhoda baru NU dalam menyongsong kebangkitan abad ke-2 (An-Nahdloh Ats Saniyah).

Setelah terpilihnya KH. Yahya Cholil Tsaquf sebagai ketua umum PBNU, banyak dikalangan akar rumput lingkar alumni PMII dan HMI di sosial media yang ramai membahas beground organisasi beliau semasa mahasiswa. Hal yang sebenarnya kurang substansional dan hanya berujung pada polarisasi.

Bagi penulis pribadi yang lebih penting dari hiruk pikuk itu adalah menyiapkan gagasan dan program NU menyongsong abad ke-2 dengan tagline kemandirian organisasi sebagaimana tema besar Muktamar ke-34 NU.

Setidaknya ada 6 harapan yang al-faqir renungkan pasca Muktamar.

Pertama, yang menjadi perhatian dalam mewujudkan kemandirian organisasi sebagaimana spirit Nahdlatul Tujjar dan tema besar yang diusung Muktamar. NU harus membentuk usaha-usaha perekonomian baik skala mikro maupun makro yang terstruktur dan massif disetiap tingkatan.

Kedua, mengevaluasi kaderisasi yang ada di interen NU. Baik Pelatihan Kader Penggerak NU (PKPNU), Madrasah Kader NU (MKNU) maupun Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK). Tiga kaderisasi ini, harus dievaluasi kembali sasaran dan target capaianya apakah sudah selaras dengan visi jam’iyah dan jamaah selaras seperjuangan dengan tupoksi-nya masing-masing.

Ketiga, dalam menghadapi bonus demografi. NU harus menyiapkan dan menginventarisir sumber daya manusia terutama kader-kader muda NU untuk dapat berkontribusi di segala sektor sesuai kecakapan dan keahlianya masing-masing terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Keempat, meneruskan cita-cita besar Prof.Dr. KH. Said Aqil Siradj dalam mengalakkan perguruan tinggi NU dan layanan kesehatan NU baik klinik maupun rumah sakit di daerah-daerah seluruh Indonesia. Agar tidak ada anak warga NU yang putus sekolah karena biaya dan memberikan keringanan biaya kesehatan bagi warga NU yang kekurangan.

Kelima, NU harus dekat dan memperjuangkan kaum mustad’afin (orang-orang yang lemah dan dilemahkan). Membela petani-petani yang kehilangan lahanya karena diserobot korporasi kapital-oligarki. Tentu dengan cara yang baik dan benar serta elegan.

Keenam, Pesantren-pesantren harus tetap menjadi role model kedalaman ilmu Agama dan keagungan akhlaqul karimah. Sehingga selalu muncul ulama-ulama muda NU yang  meneduhkan dalam dunia dakwah. Sebagaimana kealiman Gus Baha yang tersohor.

Soal politik praktis? Menjaga marwah NU dengan Istiqomah berpegang khittah 1926. Meneruskan jalan ‘hight politik’ yani politik kebangsaan dan keumatan bukan politik kekuasaan. Sebagaimana kaidah ushul yang sering dikutip Gus Dur “Tasaruful imam ala ro’iyah manutun bil maslahah”.

Tentu dalam perjalanannya kelompok yang tidak senang dengan NU pasti akan ada dan tidak tinggal diam. Tetapi hal tersebut perlu disikapi dengan bijaksana dan tanpa membalas kebencian serupa. Kuncinya mempererat Ukhuwah islamiyah,  insaniyah dan wathoniyah.  Telebih Gus Yahya mewarisi kelihaian Gus Dur dalam merajut harmonisasi persaudaraan global.

Wa ba’du, tulisan ini hanyalah opini semata dari muhibbin, tentang Road Map NU kedepanya. Selebihnya saya percaya pada hasil Muktamar terutama komisi rekomendasi organisasi. Kita semua sebagai generasi muda NU adalah ‘masa depan NU’ yang siap telibat dalam perjuangan ‘NU masa depan.

Penulis : M. ABDUROUF HANIFUDDIN (Sekretaris Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Tanggamus)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Laksanakan Arahan Presiden, Binda Kalteng Vaksin Anak 6-12 Tahun di Kobar

PANGKALAN BUN – Setelah maraton selama tiga bulan