Penerapan Sistem Kepemimpinan Umar Bin Khatab dalam menjalankan sistem Pemerintahan

Penerapan Sistem Kepemimpinan Umar Bin Khatab dalam menjalankan sistem Pemerintahan

0

Umar bin Khattab r.a. adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang terkenal memiliki keistimewaan luar biasa dalam seluruh dimensi kehidupannya.

Beliau adalah khalifah kedua yang masuk Islam pada tahun keenam setelah kenabian ketika berumur 27 tahun. Dalam pentas sejarah umat manusia, nama khalifah ‘Umar bin Khattab r.a. tidak dapat dipisahkan dengan kejayaan Islam.

Berbagai prestasi yang gemilang yang telah dicapai yang belum pernah diperoleh pada masa sebelumnya. Sangatlah layak jika kemudian nama khalifah ‘Umar r.a. punya tempat tersendiri dalam sejarah perkembangan Islam disejajarkan dengan pemimpin- pemimpin terkenal yang ada di kalangan suku Quraisy.

Salah satu sistem yang dikembangkan oleh khalifah ‘Umar bin Khaṭṭāb pada masa pemerintahannya adalah ekspansi yang dilakukan secara besar-besaran dan pembaruan dalam sistem administrasi negara sehingga menjadi kekuatan politik bagi pemerintahan Islam pada waktu itu.


Sebelum membahas sejarah kita akan membahas apa aitu kepemimpinan, secara etimologi berasal dari kata dasar pemimpin. Dalam Bahasa Inggris disebut, leadership yang berarti kepemimpinan, dari kata dasar leader berarti pemimpin Hendro Dermawan, dkk, Kamus Ilmiyah Populer Lengkap, akar katanya to lead yang mengandung beberapa arti yang saling berhubungan erat dengan: bergerak lebih awal, berjalan di awal, mengambil langkah awal, berbuat paling dulu, memelopori, mengarahkan pikiran, pendapat orang lain, membimbing, menuntun, dan menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya.


Menurut John D. Pfiffner & Robert Presthus (1967), “Leadership is the art of coordinating and motivating individuals and group to achieve desired ends. (Kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memotivasi individu-individu serta kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan), sedangkan Menurut Martin J.

Gannon (1982), “Leadership is the ability of a superior to influence the behavior of subordinates; one of the behavioral in organization. (Kepemimpinan adalah kemampuan seorang atasan mempengaruhi perilaku bawahannya; salah satu prilaku dalam organisasi).


Sejarah mencatat nama khalifah ‘Umar bin Khaṭṭāb r.a. sebagai pembangun peradaban Islam. Khalifah kedua setelah Abū Bakar al-Ṣiddīq r.a. ini adalah pendobrak dua kekuatan adidaya, Persia dan Romawi, yang telah berabad-abad mencengkeram dunia.

Kecerdasan dan kehebatan khalifah ‘Umar r.a. tidak saja dapat dilihat dari jasa-jasanya, tapi juga dari kepribadiannya yang agung. Kondisi fisik dan kemampuannya yang sangat menonjol, menjadikan khalifah ‘Umar r.a. mampu memikul tanggung jawab besar.


Beliau benar-benar telah melakukan pembaruan di berbagai bidang kehidupan. Khalifah ‘Umar r.a. telah terbukti memiliki kualitas kepribadian yang agung yang mampu membawa umat Islam kepada kejayaan. Kehebatan khalifah ‘Umar r.a. telah mendapat pengakuan dari berbagai kalangan, baik yang beragama Islam maupun yang tidak. Apa yang dilakukan khalifah ‘Umar bin Khaṭṭāb r.a. merupakan langkah cemerlang, sehingga dianggap pemerintahan paling berhasil dari empat masa Khulafā al-Rāsyidīn, yang berhasil membawa umat Islam mencapai kejayaan di bidang politik dan kesejahteraan di bidang sosial ekonomi yang belum sempat dicapai pada masa pemerintahan khalifah sebelum dan sesudahnya.


Perluasan wilayah pada zaman khalifah Umar r.a. berlangsung dalam waktu 10 tahun. Pada waktu yang relatif singkat itu, daerah yang dikuasai oleh pemerintah Madinah bertambah secara spektakuler. Pada saat itu daerah yang berada di bawah kekuasaan pemerintahan khalifah Umar r.a., terbentang dari Tripoli (Afrika Utara) di Barat sampai ke Persia di Timur, dan dari Yaman di Selatan hingga Armenia di Utara.

Hal tersebut merupakan hasil dari para panglima dan tentaranya, serta kebijakan khalifah dalam mengarahan dan membina mental pasukan. Prestasi gemilang Umar r.a. bukan hanya dalam hal pembebasan wilayah- wilayah baru ke pangkuan kekuasaan pemerintahan Islam, melainkan dalam aspek- aspek lain.

Dia telah mampu memikirkan dan menciptakan administrasi yang sebelumnya tidak ada. Umar membagi kekuasaan Islam yang berpusat di Madinah ke dalam beberapa propinsi yaitu: Mekah, Madinah, Suriah, Jazirah, Bashrah, Kufah, Mesir dan Palestina.


Setiap propinsi dipimpin oleh para gubernur, dan kedudukan Gubernur di setiap wilayah merupakan wakil khalifah di Madinah. Dasar-dasar sistem pemerintahan yang tangguh telah dibentuk pada masa pemerintahan Umar r.a. Dia telah menciptakan lembaga-lembaga kenegaraan untuk memudahkan urusan administrasi dan keuangan. Lembaga-lembaga dan dewan- dewan yang dibentuk Umar r.a. seperti : bait al- māl (perbendaharaan negara), pengadilan dan pengangkatan hakim, jawatan pajak, penjara, jawatan kepolisian, juga membuat aturan pemberian gaji kepada tentara dan tentara cadangan, pemberian gaji kepada guru-guru, Imam dan Muadzin, pembebanan bea cukai, pungutan pajak atas kuda-kuda yang diperdagangkan, dan pungutan pajak atas orang-orang Kristen Bani Tighlab sebagai ganti jizyah.


Walaupun masalah – masalah yang dihadapi oleh pemerintahan Umar r.a tidak serumit permasalahan yang dihadapi oleh negara-negara modern saat ini. Akan tetapi, secara cita-cita dan nilai- nilai pemerintahan khalifah Umar r.a. telah mengarah pada model negara kesejahreraan.

Dalam membangun perekonomian umat, khalifah Umar r.a. sangat menekankan kepada warga negaranya untuk tidak bermalas-malasan dan tekun dalam mencari nafkah.

Khalifah Umar r.a. melarang warganya untuk bergantung pada negara, mengemis dan malas-malasan serta berhenti mencari nafkah, selama mereka mampu dan sehat.
Pemerintahan khalifah Umar r.a. juga dianggap sebagai pemerintahan yang demokratis, karena Umar r.a. telah meletakkan prinsip-prinsip demokrasi dalam pemerintahannya dengan membangun jaringan pemerintahan Sipil yang Paripurna.

Kekuasaan khalifah Umar r.a. menjamin hak yang sama bagi setiap warga negaranya, hal tersebut terlihat ketika Umar r.a. memberikan pelayanan sosial atau tunjangan dari negara kepada warga negaranya baik yang muslim atau nonmuslim.

Khalifah Umar r.a. bukan hanya dikenal sebagai seorang negarawan yang mampu menciptakan sebuah peraturan baru, beliau juga mampu memperbaiki dan mengkaji ulang terhadap segala kebijaksanaan yang telah ada pada masa Nabi SAW dan Abu Bakar r.a. Semua itu beliau lakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kemaslahatan bagi semua umat Islam.
Pemerintahan Madinah pada masa kepemimpinan khalifah Umar r.a. bisa dikatakan sebagai pemerintahan yang penuh dengan nilai dan prinsip demokrasi. Ia mampu menjamin hak-hak setiap warga negaranya dengan cara tidak membedakan antara atasan dengan bawahan, dan antara penguasa dengan rakyat.

Khalifah Umar r.a. tidak memberikan hak istimewa kepada dirinya sendiri dan para pejabatnya, sehingga tidak ada pengawalan baginya dan pejabat pemerintahannya, tidak ada istana, bahkan tidak ada pakaian kebesaran. Meskipun pengangkatan ‘Umar bin Khaṭṭāb r.a. sebagai khalifah merupakan fenomena yang baru pada saat itu yang menyerupai penobatan putra mahkota, tetapi harus dicatat bahwa proses peralihan kepemimpinan tersebut tetap dalam bentuk musyawarah yang tidak memakai sistem otoriter.
Pendekatan khalifah Umar r.a. dalam pemikiran-pemikirannya, yang sejak awal terlihat lebih banyak bersifat rasional dan intelektual, telah membawanya untuk melahirkan perubahan-perubahan hukum secara formal terutama dalam menghadapi wahyu Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya. Perubahan-perubahan hukum itu untuk sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi dan situasi, di mana tuntunan kemaslahatan dan kepentingan umum yang merupakan tujuan akhir dari syar’iyah menghendaki yang demikian.
Umar adalah seorang pemimpin yang tegas, adil, bijaksana, disiplin, serta anti korupsi, kolusi dan nepotisme.

Keikhlasan Umar r.a. dan integritasnya mengabdi kepada Islam dan kepada umat, pribadinya yang sering disebut-sebut sebagai teladan karena ketegasannya. Walaupun sebelum masuk Islam khalifah Umar r.a. adalah seorang peminum minuman keras, namun setelah masuk Islam, beliau adalah seorang yang ta’at menjalankan ibadah, di samping itu termasuk seorang zahid yang paling keras menjauhi harta.

Ketika Rasulullah SAW memberikan kepadanya hasil rampasan perang yang diperoleh kaum Muslimin, dia mengatakan agar harta itu diberikan saja kepada yang lebih miskin darinya. Jawabanya yang sangat luar biasa pada rakyatnya. Salah satu kebiasaannya adalah melakukan pengawasan langsung dan sendirian bekeliling kota mengawasi kehidupan rakyatnya.


Dalam hal ini pemerintahan Indonesia sebenarnya bisa mengambil contoh untuk melakukan suatu kepemimpinan yang baik contohnya Umar Bin Khatab, bagaimana sifatnya yang menjadi seorang pemimpin pada masanya sangat adil kepada rakyatnya.

Sifatnya yang membuat rakyat merasakan adanya kepemimpinan yang bisa mengerti dan mengaplikasikan suara rakyat karena adanya demokrasi. Banyak yang mengidolakan sosok Umar ini bahkan tokoh negara barat sekalipun. Seandainya dalam kepemimpinan negara Indonesia saat ini seperti Khalifah Umar Bin Khatab tidak ada lagi masyarakat yang merasa tertindas seperti kelaparan, miskin, sengsara dan lain-lain.[]

Penulis : Nabila Wandalia / Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Unsyiah

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Disdik Aceh dan Kemendikbud Ristek Gelar Bimtek E-Pembelajaran Berbasis TV dan Suara Edukasi

Wali-news.com, Banda Aceh – Pada saat ini teknologi