Sekretaris Utama BNPT : Radikal Terorisme itu “Mematikan”

Sekretaris Utama BNPT : Radikal Terorisme itu “Mematikan”

0
Acara Dialog Perlibatan Komunitas Seni Budaya Dalam Pencegahan Paham Radikalisme dan Terorisme di Provinsi Aceh, Rabu (12/4)

wali-news.com, Banda Aceh – Radikal terorisme itu “mematikan”, sebaliknya sastra dan budaya justru “menghidupkan”. Ketika radikal terorisme menyebarkan teologi maut, maka sastra memuliakan hidup dan kehidupan yang diamanahkan oleh Tuhan. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Utama BNPT, R. Gautama Wiranegara dalam sebuah dialog di Hotel Mekkah, Banda Aceh, Rabu (12/4)

Acara yang digagas oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh tersebut mengangkat tema “Sastra Cinta Damai, Cegah Paham Radikal”. Kegiatan ini dihadiri para tokoh masyarakat, sastrawan, seniman dan budayawan, kegiatan ini juga dalam rangka meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi ancaman terorisme.

Sekretaris Utama BNPT R. Gautama Wiranegara dalam sambutannya mengatakan, kami percaya ketika radikal terorisme itu “mematikan”, sebaliknya sastra dan budaya justru “menghidupkan”. Ketika radikal terorisme menyebarkan teologi maut, maka sastra memuliakan hidup dan kehidupan yang diamanahkan oleh Tuhan.

Ia menjelaskan, beberapa hal yang menjadi kunci keberhasilan dalam menanggulangi terorisme, pertama sinergi seluruh komponen bangsa, butuh keterlibatan semua pihak dalam melakukan upaya mulia tersebut seperti pemerintah melalui jajarannya melakukan kerjasama dengan elemen masyarakat, tokoh agama, toko adat seni budaya, tokoh media massa, tokoh pemuda dan perempuan, serta tokoh pendidikan di aceh dan seluruh indonesia.

“Kedua penguatan nilai-nilai budaya lokal mencegah paham radikal. Kebudayaan dan kearifan lokal merupakan penguat solidaritas dan kohesifitas masyarakat.” tambahnya.

Menurut Gautama, FKPT merupakan bagian dari strategi kontra radikalisasi, dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat adat, seni, dan budaya, tokoh media massa, tokoh pemuda dan perempuan, serta tokoh pendidikan, sebagai mitra strategis dalam membentengi masyarakat dari pengaruh paham radikal terorisme.

“Pengaruh paham radikal terorisme yang saat ini nyata antara lain, bergesernya secara perlahan karakter masyarakat kita yang semua toleran, ingin diubah menjadi intoleran.” terangnya.

Gautama juga mengatakan, kesenian merupakan cipta, rasa dan karsa manusia yang digali dari nilai-nilai luhur masyarakat, dapat didayagunakan untuk menangkal ideologi kekerasan dan menguatkan semangat perdamaian. Sastra bagian dari cabang dari kesenian, dalam konteks tersebut, adalah elemen penting menghaluskan perasaan, membentuk watak yang sensitif secara pribadi dan sosial, serta menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

“Kegiatan ini merupakan ikhtiar mengajak masyarakat untuk mewaspasdai radikalisme, sebagai bagian dari upaya-upaya pencegahan terorisme, dalam rangka merawat kesatuan dalam kebhinekaan Indonesia. Kami juga berharap kegiatan ini selain menampung segala kritik, saran, dan masukan dari para sastrawan tentang peranannya dalam pencegahan terorisme, nantinya dapat mengkompilasi karya-karya sastra dari Aceh yang sejalan dengan semangat perdamaian.” tutup Gautama.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

AMM Lakukan Aksi Mogok Makan di Halaman DPR Aceh

Wali-nees, Banda Acwh- Anak Muda Menggugat ( AMA)