Utang Pemerintah Melonjak, Berbahayakah? Simak Analogi Sederhana Ini

Utang Pemerintah Melonjak, Berbahayakah? Simak Analogi Sederhana Ini

0
foto : harianterbit.com

wali-news.com – Benarkah Indonesia Darurat Utang? Hal tersebut menjadi perbincangan masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, Kementerian Keuangan merilis total jumlah utang pemerintah pusat mencapai Rp 3.706 triliun. Banyak kalangan menilai, bahwa utang di era pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla terbilang sangat tinggi pertumbuhannya.

Bagaimana sebetulnya hitung-hitungan utang pemerintah? Apa saja variabel yang dipertimbangkan sehingga mengambil keputusan untuk menambah utang? Kenapa pengeluaran pemerintah selalu lebih besar dibanding pendapatannya?

Tentu saja sangat kompleks. Untuk memudahkan pemahaman tentang utang luar negeri, analisis Bareksa mencoba untuk menjelaskannya melalui analogi-analogi simple dengan contoh yang ada di sekitar kehidupan kita sehari-hari.

Grafik : Pertumbuhan Total Utang Pemerintah Pusat (Rp Triliun)

Sumber : Kementerian Keuangan, diolah Bareksa

Kita bisa menganalogikan utang luar negeri pemerintah dengan utang rumah tangga. Misalkan, seseorang kepala rumah tangga memiliki profil gaji dan defisit rumah tangga seperti berikut ini:

1. Gaji = Rp 100 juta per tahun (Ini analogi terhadap produk domestik bruto/ PDB Indonesia).

2. Kenaikan gaji per tahun = 7 persen (Ini analogi terhadap pertumbuhan ekonomi atau PDB).

3. Pengeluaran Rp 101 juta per tahun (Defisit setara dengan 1 persen dari gaji per tahun)

4. Terjadi defisit rumah tangga (Pengeluaran lebih besar dari / > Pemasukan) = 1 persen dari gaji per tahun. (defisit terhadap APBN)

5. Defisit 1 persen gaji itu ditutup dengan utang. (analogi utang luar negeri pemerintah)

6. Bunga bank = 3 persen per tahun. (analogi suku bunga nominal utang pemerintah)

Dengan defisit terus menerus setiap bulan sebesar 1 persen dari gaji, bagaimana utang orang itu dalam jangka panjang? Apakah harus khawatir? Jawabannya tidak, karena kenaikan gaji orang itu lebih besar dari bunga bank yang dibayarkan.

Rumus untuk menghitung besarnya proporsi utang negara terhadap PDB dalam jangka panjang adalah sebagai berikut :

utang/PDB = (defisit APBN)/(pertumbuhan PDB – bunga bank)

Jika angka-angka di atas yang telah dijadikan contoh dimasukkan dalam perhitungan rumus, maka besarnya rasio utang terhadap gaji orang tersebut dalam jangka panjang adalah :

              Utang/(PDB-Bunga bank) = 1/(7-3) = 25 persen

Dalam jangka panjang jumlah utang memang akan terus bertambah. Namun karena gaji juga terus meningkat tiap tahun, maka rasio utang terhadap gaji orang tersebut akan stabil di level 25 persen.

Mengapa rasio utang bisa stabil meskipun orang dalam contoh di atas tidak henti-hentinya menambah utangnya tiap tahun? Sebab rasio utang akan stabil dikarenakan pertumbuhan kenaikan gaji setelah dikurangi pembayaran bunga masih lebih besar dibandingkan defisit yang terjadi.

Grafik : Perbandingan Rasio Utang/PDB 2006 & 2016 (%)

Sumber : Kementerian Keuangan, diolah Bareksa

Berdasarkan grafik tersebut, meski total utang pemerintah pusat terus melonjak, namun pada kenyataannya rasio utang terhadap PDB justru menurun dalam 10 tahun terakhir. Hanya Indonesia dan Filipina selain ASEAN yang mampu menekan rasio itu dalam 10 tahun terakhir. Rasio ini yang selalu ditekankan disetiap sosialisasi Kementerian Keuangan bahwasanya meskipun Indonesia menerapkan kebijakan defisit dan utang bertambah, namun secara rasio masih aman dibandingkan negara lainnya.

Perlu ditekankan, utang bermanfaat jika ditanamkan dalam usaha produktif dan tepat sasaran sehingga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Kendati utang pada dasarnya bermanfaat namun pengelolaan utang tetap perlu memperhatikan prinsip kehati-hatian. (Bareksa)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

DPW PNA Kota Banda Aceh Sambut Milad Dengan Doa Bersama

Wali-news, Banda Aceh- Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai