Warga Menyesal Setujui Ambal Tambang Semen

Warga Menyesal Setujui Ambal Tambang Semen

0

SUKABUMI (Wali-News.com) – Oon Juanda (58) warga di Kampung Leuwidinding, RT5/RW1, Desa Tanjungsari, Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa menyesal memberikan tanda tangan sebagai pelengkap dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) tambang semen.

Oon mengaku tidak tahu, tanda tangan yang di buat 12 tahun yang lalu itu akan berdampak luar biasa terhadap kehidupan warga setempat. Namun nasi sudah menjadi bubur, saat ini dia hanya berharap janji manis pengelola PT Tambang Semen Sukabumi (TSS) yang menjadi rekanan PT Semen Jawa, Siam Cemen Group (SCG) segera ditunaikan.

“Saya didatangi tim yang urus Amdal, saat itu belum ada nama SCG atau Semen Jawa. Mereka datang untuk urus izin PT TSS, janjinya banyak di antaranya akan memberdayakan warga setempat dan perekrutan pekerja dari warga yang berlokasi di area tambang sehingga saat itu saya langsung memberikan tanda tangan,” kata Oon di kediamannya, Jumat (21/9/2018).

idak hanya soal pemberdayaan dan perekrutan pekerja, Oon juga menyebut nama seorang petinggi di PT TSS yang mengaku akan membangun pasar untuk mengangkat perekonomian warga. Dari sekian banyak janji itu, hanya perekrutan karyawan yang terealisasi itupun hanya sebagian saja bekerja di PT Semen Jawa.

“Yang kerja bisa dihitung dengan jari, hanya puluhan itupun statusnya outsourcing. Pasar dan pemberdayaan enggak pernah ada sampai hari ini, saya menyesal tanda tangan izin tapi enggak bisa berbuat banyak. Warga pasrah, tapi tunaikan janji,” ujarnya.

Krisis air bersih mulai dirasakan warga ketika eksploitasi bahan tambang semen dimulai sekitar 2 tahun ke belakang. Terlebih adanya bahan peledak untuk tambang yang dianggap menghancurkan perekonomian warga selain banyaknya tembok yang retak akibat getaran.

“Air sudah jelas hilang, dari 17 mata air hanya 1 yang tersisa. Beberapa waktu lalu terjadi peledakan di area tambang yang hanya berjarak antara 1,5 kilometer – 2 kilometer dari perkampungan ada getaran sampai rumah retak, kami datangi ke area tambang dan minta mereka berhenti,” tutur Oon.

Rumah-rumah warga dikatakan Oon memang mendapat ganti rugi, tapi tidak seberapa. Perusahaan hanya mengganti berdasar kerusakan tidak dengan dampaknya. Bahkan ratusan ekor ayam pedaging yang diternak warga mati akibat terkena dampak suara ledakan.

“100 ekor lebih ayam milik ketua RT 05 mati karena stres, sudah diajukan ganti rugi tapi sampai sekarang tidak jelas. Katanya mau diganti tapi belum juga terealisasi,” jelas dia.

Ketua RT 05 RW 01, Desa Tanjungsari Madin (50) membenarkan hal itu sebelum ada eksploitasi menggunakan bahan peledak peternakan ayamnya tidak ada masalah. Namun persoalan timbul ketika ledakan keras yang berasal dari tambang terjadi.

“162 ekor ayam saya mati karena stres, sebelum ada ledakan peternakan ayam lancar. Tapi setelah adanya ledakan-ledakan saya pilih untuk menghentikan usaha saya,” tutur Madin.


Sumber : Detikcom

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Dema UIN Ar-Raniry Temui Rektor Minta Laksanakan Perkuliahan 100%

Wali-news.com, Banda Aceh – Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema)