Wisata Arsip, Sebagai Sebuah Alternatif Meningkatkan Kunjungan Wisata di Aceh

Wisata Arsip, Sebagai Sebuah Alternatif Meningkatkan Kunjungan Wisata di Aceh

0

Oleh : Muhammad Ihwan*

Provinsi Aceh selain terkenal dengan peninggalan-peninggalan bersejarah yang dapat kita temui seperti Masjid Baiturrahman, Taman Sari Gunongan, Benteng Indra Pura, atau kopi Gayonya yang terkenal itu, dan yang mendunia adalah bencana tsunami yang maha dasyat yang melahirkan obyek wisata baru, ibarat kata “sengsara membawa nikmat.” Namun ada yang menarik di aceh ini karena Provinsi Aceh beberapa tahun terakhir juga terkenal dengan Provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Pulau Sumatera. Sebuah predikat yang tak seharusnya disandang oleh masyarakat Aceh bila dibandingkan dengan kekayaan alam yang mereka miliki.

Provinsi Aceh memiliki berbagai sumber daya alam yang sangat kaya antara lain pertambangan perak, gas alam, minyak bumi, emas dan batu bara. Gas alam yang paling terkenal adalah Lapangan Arun yang sudah beroperasi sejak tahun 1970-an untuk memenuhi kebutuhan pabrik Pupuk Iskandar Muda, pembangkit listrik, serta ekspor LNG ke Jepang dan Korea. Selain tambang Provinsi Aceh juga memiliki hutan, pantai, dan kekayaan alam lainnya yang dapat mengangkat kehidupan masyarakat Aceh.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Jumlah penduduk miskin di Provinsi Serambi Mekah ini 834 ribu orang atau 15,33%. Menurut kepala BPS Aceh Ihsanurijal beberapa factor yang menjadi pemicu kemiskinan adalah tingkat pengangguran terbuka, dan tentunya wabah covid 19. Pandemi berdampak pada penduduk usia kerja menjadi pengangguran, ada yang tidak bekerja hingga pengannguran jam kerja.

Sebagai gambaran menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh Jumlah kunjungan wisata ke Aceh selama tahun 2020 tercatat mengalami banyak penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2019. Sebanyak 10.402 wisatawan mancanegara berkunjung ke Aceh dalam periode Maret sampai dengan Oktober 2020 atau mengalami penurunan sebesar 56,77 persen dibanding periode yang sama pada tahun yang lalu. Tentu dengan menurunnya jumlah wisatawan yang datang ke Aceh berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat di berbagai sector usaha mulai dari transportasi, akomodasi (hotel), kuliner, maupun tempat-tempat wisata lainnya. Sebagai alternatif untuk meningkatkan pendapatan disektor pariwisata maka “wisata arsip” menjadi sebuah alternatif dalam meningkatkan kunjungan wisata di Provinsi Aceh.

Wisata arsip sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam dunia kearsipan Indonesia, program ini sebelumnya pernah dicanangkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur dengan “Wisata Arsip” untuk Anak Sekolah (WARAS). Dalam program WARAS ini anak sekolah diajak untuk melihat langsung koleksi arsip yang ada di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jatim, bahkan setelah berkunjung ke DPKAD Provinsi Jawa Timur peserta Wisata Arsip akan diajak berkeliling Kota Surabaya untuk melihat berbagai monument perjuangan Rakyat Surabaya, seperti tugu Kota Pahlawan, Hotel Yamamoto dan berbagai tempat lainnya yang dapat memberikan informasi tentang sejarah perjuangan rakyat Surabaya.

Demikian juga Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah mengembangkan “Wisata Arsip” untuk lebih mengenalkan pengelolaan arsip kepada masyarakat luas. Program wisata arsip di Badan Arsip dan Perpustakan Provinsi Jawa Tengah ini diantaranya pengenalan terhadal Lembaga Kearsipan Provinsi Jawa Tengah, Menonton Film Dokumenter, Pengenalan Pengelolaan arsip dinamis, termasuk didalamnya kunjungan di Record Center.

Provinsi Aceh sebagai daerah yang memiliki keunikan dan kaya akan tempat-tempat wisata baik wisata alam, maupun wisata budaya dapat mengembangkan “Wisata Arsip” dengan kemasan yang berbeda. Ada sekitar 250 tempat wisata yang dapat dikunjungi di aceh baik itu pantai, air terjun, sungai, gunung, situs-situs cagar budaya, maupun musium. (sumber http.//www.tempatwisata.pro:wisata). Termasuk didalamnya situs-situs tsunami, dan tentu salah satu yang dapat dikunjungi adalah Balai arsip Statis dan Tsunami Arsip Nasional Republik Indonesia yang ada di Aceh, yaitu di Lampinang, Kota Banda Aceh dan Desa Bakoi, Aceh Besar sebagai penggagas “Wisata Arsip” di provinsi aceh.

Wisata Arsip yang digagas oleh Balai Arsip Statis dan Tsunami (BAST) ANRI Aceh adalah Wisata Arsip Terintegrasi. Wisata Arsip Terintegrasi adalah sebuah konsep kunjungan wisata yang memadukan antara informasi yang ada di kearsipan dengan informasi budaya, keindahan alam, kuliner dan wisata lainnya yang dapat dinikmati pengunjung wisata atau wisatawan.

Kenapa arsip ?, arsip menurut pengertian Undang-Undang Nomor 43 Tahum 2009 adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh Lembaga negara, pemerintahan daerah, Lembaga Pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jadi apapun informasi adalah arsip.

Tentu mewujudkan gagasan ini tidak segampang mengeluarkan ide atau gagasan, tetapi memerlukan usaha dan kerja sama dari berbagai sektor, seperti Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Aceh, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan di 23 Kabupaten/Kota se-Provinsi Aceh, Dinas Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota, masyarakat pelaku pariwisata, dan tentu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang akan menyiapkan berbagai sarana dan prasarana wisata.

Bagi komunitas kearsipan mengemas arsip sebagai sebuah “Wisata Arsip” adalah sebuah keharusan agar wajah kearsipan Indonesia, khususnya di Aceh dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, maupun pemerintah, terutama dalam membantu meningkatkan pendapatan dan mengurangi pengangguran. Dengan demikian arsip dan kearsipan yang selama ini tidak mendapatkan perhatian masyarakat, maupun pemerintah daerah kabupaten/kota, serta pemerintah daerah provinsi akan dapat berubah, karena memberikan kontribusi positif bagi peningkatan perekonomian masyarakat.

Program apapun yang dikembangkan oleh pemerintah sudah tentu harus dapat memberikan manfaat bagi masyarakat seperti meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), meningkatnya taraf hidup masyarakat, dan memperluas kesempatan kerja. Pangsa pasar “Wisata Arsip” sangat terbuka apalagi arsip yang ada di Provinsi Aceh yang salah satunya ada di BAST sudah tercatatat dalam Memory Of The Word (MOW) UNESCO, sehingga menarik perhatian masyarakat dunia, terutama yang tertarik dengan ilmu dan pengetahuan kebencanaan/tsunami.

Pengelolaan arsip yang ada di semua Lembaga Kearsipan sudah tentu harus terus di perbaiki agar siap mengahadapi program “Wisata Arsip,” yang dicanangkan. Koleksi arsip statis harus terus ditambah dan diperbaiki aksesnya, termasuk digitaisasi arsip agar dapat melayani permintaan secara secara on line, sebelum pengunjung datang ke Provinsi Aceh.

Demikian pula apabila arsip-arsip yang terdapat di sumber informasi lain, selain di Lembaga kearsipan, maka harus dipastikan informasi dan keberadaannya, sehingga apabila ada publik yang ingin mendapatkan arsip-arsip tersebut dapat diarahkan kepada sumber informasi tersebut. Yang tidak kalah pentingnya adalah komitmen bersama semua komponen pelaku pariwisata dalam mensukseskan program “wisata arsip.”

*Penulis adalah Kepala Balai Arsip Statis dan Tsunami Aceh.

Redaksi menerima sumbangan tulisan dari pembaca. Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Ikatan Alumni Abulyatama Peringati Maulid Nabi dengan Santuni Anak Yatim

Wali-News.com, Aceh Besar– Ikatan Alumni Abulyatama Aceh (IAA)